Jakarta, Beritasatu.com – Di jalanan kota Jakarta sering kita jumpai ngopi keliling atau yang biasa disebut bintang. Tak jauh dari Jalan Prapatan Baru, Kwitang, Jakarta Pusat, ada sebuah sudut yang dihuni lebih dari 500 pedagang kopi berkeliaran.
Read More : Harga Minyak Mentah Turun Lagi 1 Persen
Sudut gang sempit yang diapit Hotel Aryaduta dan kantor Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta menjadi rumah bagi ratusan pedagang bintang yang sebagian besar berasal dari Madurai. Mereka datang untuk mengadu nasib di Jakarta.
Sebuah gerbang bertuliskan “Selamat Datang di Kawasan Pedagang Kopi Keliling” menandai kawasan yang biasa disebut Kampung Jalak. Puluhan sepeda kopi keliling serta produk kopi yang dikemas dalam tas, botol, gula, dan gelas plastik terlihat terparkir di sisi kiri dan kanan gang.
Kemudian juga terdapat berbagai gerobak makanan yang berisi bakso, mie ayam dan makanan lainnya yang juga menjadi sumber penghasilan keluarga pedagang kopi keliling.
Setidaknya terdapat 10 agen di Starling Village yang masing-masing memiliki 50 pedagang kopi keliling. Camat Senen RT 01/RW 05 Ivan mengatakan, sebagian besar pedagang yang dibawa petugas berasal dari Madurai.
Setibanya di Jakarta, para pendatang hanya perlu menyediakan sepeda untuk dijual. Agen akan menangani segala kebutuhan produk mulai dari kopi hingga es batu. Para agen bahkan menyediakan akomodasi kepada para pedagang. Pedagang yang belum menikah tinggal satu ruangan dengan tikar, sedangkan pedagang yang sudah menikah diberi kamar oleh agen.
“Dari semua agen, dia hanya butuh penukaran, yang penting dia punya fasilitas, sepeda dan botol termos, itu saja. Jika seorang agen menyediakan akomodasi bagi pedagangnya, yang penting dia mau; “Kami hanya percaya padanya karena dia memang ingin tinggal di Jakarta,” kata Ivan saat ditemui di Kampung Jalak, Minggu pagi (5/5/2024).
Pedagang kopi jalak bekerja dalam dua shift. Shift pertama berangkat ke Kampung Jalak pada pukul 05:00 WIB dan mencakup penjualan kopi hingga pukul 16:00 WIB. Shift kedua akan menggantikan dan turun pada sore hari dan terjual habis besok pagi.
Pantauan Beritasatu.com, Kampung Jalak tampak sepi pada pukul 11.00 WIB karena para pedagang yang berangkat sore hari masih tertidur dan para pedagang yang berangkat belum kembali.
Read More : Diperiksa 6 Jam, Benny Rhamdani Jawab 22 Pertanyaan Terkait Sosok Inisial T Pengendali Judi Online
Ivan mengatakan, perputaran uang di kampung Jalak cukup tinggi, karena setiap harinya ratusan dus produk kopi diantar oleh distributor ke agen. Selain berjualan kopi, ibu-ibu kampung Jalak juga membuat aneka jajanan dengan kopi.
“Ada seorang pengantar kopi. Pada dasarnya ada di sana setiap hari dari Senin hingga Jumat, dan terdapat ratusan kotak kopi dari berbagai merek. “(Istri pedagang) juga jualan kacang tanah, mereka jual berantai seharga 1.000-2.000 rubel,” jelas Ivan.
Meski berada di bantaran Sungai Kilivung, warga Kampung Jalak berupaya menciptakan lingkungan yang mandiri secara ekonomi. Baik laki-laki maupun perempuan bekerja sama untuk memajukan Jakarta dengan berjualan kopi dan makanan ringan.
Warga kampung Jalak juga berupaya menciptakan lingkungan yang ideal bagi tumbuh kembang anaknya dengan mengadakan kelas mengaji kepada anak-anak.
“Kami juga membuka madrasah TPA yang letaknya di Masjid Al Muhajiri, jadi setiap sore mereka membaca Al-Quran hingga anak-anak pulang pada malam harinya,” kata Ivan.