Jakarta, Beritasatu.com – Tren “pernikahan itu menakutkan” menyebar dengan cepat di media sosial, khususnya TikTok, dengan banyak wanita yang mengungkapkan ketakutannya terhadap pernikahan.
Read More : BMKG Ramal Hujan di Musim Mudik, Cek Ban Mobil Sebelum Terlambat!
Istilah ini berarti “pernikahan itu menakutkan” dan sering kali diikuti dengan frasa “bagaimana jika”, yang menyoroti kekhawatiran tentang situasi negatif yang mungkin ada dalam pernikahan, seperti perselingkuhan atau kekerasan dalam rumah tangga. Fenomena ini menunjukkan kecemasan terhadap hubungan yang tidak sesuai harapan.
Popularitas tren ini dengan cepat menyebar ke platform lain seperti Instagram dan X (sebelumnya Twitter), menunjukkan bahwa ketakutan akan komitmen pernikahan menjadi isu besar.
Ketakutan ini dipicu oleh semakin banyaknya kasus perceraian dan kekerasan dalam rumah tangga yang sering diperbincangkan di media sosial, sehingga membuat banyak orang mempertanyakan bahayanya pernikahan.
Meskipun mirip dengan gamophobia, yaitu ketakutan yang sangat kuat terhadap komitmen, ketakutan terhadap pernikahan menggambarkan kekhawatiran yang lebih imajinatif tentang masalah perkawinan yang mungkin tidak terjadi, sedangkan gamophobia melibatkan ketakutan yang mendalam yang dapat menyebabkan reaksi fisik seperti kecemasan menjadi parah
Read More : Ini Alasan Mide Hadirkan Kulkas dengan Kapasitas Simpan Besar untuk Kebutuhan Rumah Tangga
Munculnya pernikahan merupakan proses menakutkan yang juga menyoroti pentingnya memilih pasangan yang tepat sebelum menikah. Mengetahui kepribadian dan latar belakang pasangan merupakan langkah penting untuk menghindari jebakan perkawinan.
Tren ini bukan sekadar fenomena viral, namun merupakan cerminan nyata kepedulian banyak orang terhadap tantangan pernikahan dan cara mengatasinya.