Jakarta, Beritasatu.com – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan Indonesia mengalami penurunan sebesar 0,18% secara bulanan atau (month-on-month/MTM) pada Juli 2024. Ini merupakan tingkat inflasi ketiga berturut-turut sejak Mei 2024.
Read More : 73 PMI Dideportasi dari Malaysia, 1 Terindikasi Menderita Cacar Monyet
“Sedangkan inflasi sebesar 2,13% secara tahunan (y/y) dan inflasi sebesar 0,89% secara tahun kalender (ytd/ytd),” kata Plt Kepala BPS Amalia Odininger Vidyasanti dalam konferensi pers. Di Jakarta, Kamis (1/8/2024).
Kelompok pengeluaran yang memberikan sumbangan inflasi bulanan terbesar adalah kelompok makanan, minuman, dan tembakau masing-masing sebesar 0,97% dan 0,28%. “Sektor makanan, minuman, dan tembakau menyumbang inflasi selama empat bulan berturut-turut,” ujarnya.
Komoditi yang memberikan sumbangan inflasi terbesar adalah tomat sebesar 0,11%, tomat sebesar 0,09%, dan ayam ras sebesar 0,04%.
BPS juga menjelaskan peristiwa-peristiwa yang dapat mempengaruhi indeks harga. Pertama, perkembangan curah hujan dalam 2 bulan terakhir. Pada Juni 2024, wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara akan mengalami penurunan curah hujan. Rendahnya curah hujan mempengaruhi produksi hortikultura dalam negeri.
Read More : Siswa Curhat Soal Kembalinya Kebijakan Penjurusan SMA 2025
Sedangkan penyumbang inflasi terbesar adalah lada dan beras masing-masing sebesar 0,04 persen. Disusul oleh emas perhiasan, kopi bubuk, kentang, sigaret kretek mesin (SKM), dan sigaret kretek tangan (SKT) yang masing-masing menyumbang inflasi sebesar 0,01%. Kelompok pendidikan juga mengalami inflasi sebesar 0,69% atau memberikan sumbangan inflasi sebesar 0,04%, ujarnya.