Jakarta, Beritastu.com – Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) memproyeksikan Bank Indonesia (BI) mampu mempertahankan suku bunga acuannya di level 6%. di dalam. Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 19-20 November 2024. Hal ini didasari oleh berlanjutnya depresiasi rupee dan inflasi yang berkelanjutan.
Read More : Hasil Piala Asia U-23 Indonesia vs Uzbekistan, Ferarri: Gol Dianulir Runtuhkan Mental Kami
Ekonom LPEM FEB UI, Teuku Riefky, menyarankan agar BI tetap mempertahankan suku bunga acuan untuk memberikan fleksibilitas penyesuaian di masa depan. Menurutnya, keputusan ini penting untuk menjaga stabilitas harga dan memberikan ruang untuk mengurangi kebijakan jika diperlukan.
โPenurunan suku bunga saat ini belum menjadi prioritas, namun mempertahankannya memberikan peluang yang besar di masa depan,โ kata Riefky dalam laporan analisis makroekonomi BI RDG November 2024, Rabu (20/11/2024).
Pada Oktober 2024, inflasi tahunan tercatat menurun menjadi 1,71% dari bulan sebelumnya 1,84%, yang merupakan level terendah sejak November 2021.
Angka tersebut masih berada dalam target inflasi BI sebesar 1,5%-3,5%. Penurunan ini terutama disebabkan oleh kelompok harga yang dikendalikan pemerintah dan volatilitas harga, meskipun inflasi inti sedikit meningkat menjadi 2,21% karena kenaikan harga komoditas global.
Namun pelemahan nilai tukar rupiah menjadi Rp 15.770 per dolar AS pada pertengahan November dipengaruhi oleh arus dan ketidakpastian politik serta pemilu Amerika tahun 2024. Di sisi lain, cadangan devisa meningkat menjadi US$ 151,2 miliar karena pendapatan pajak. . jasa dan pinjaman tanah pemerintah.
Read More : Timnas Indonesia U-20 Gagal, Netizen Serbu Instagram Indra Sjafri
Secara global, The Fed telah memangkas suku bunga dua kali berturut-turut sebesar 25 basis poin karena inflasi yang terkendali dan penurunan pasar tenaga kerja.
Meskipun pasar memperkirakan kebijakan The Fed akan mudah dilanjutkan pada bulan Desember, rencana kebijakan ekonomi Donald Trump pasca Pemilu AS tahun 2024, seperti pajak impor dan pemotongan pajak, dapat meningkatkan tekanan inflasi di masa depan.
Langkah BI untuk mempertahankan suku bunga tetap dinilai penting untuk menjaga stabilitas perekonomian domestik di tengah tantangan eksternal.