Batavia, Beritasatu.com – Plt Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia A Vidyasanti buka suara terkait deflasi selama lima bulan berturut-turut dan kaitannya dengan menurunnya standar pemberdayaan masyarakat. Menurutnya, untuk mengetahui hal tersebut tentu perlu dilakukan penyelidikan lebih mendalam.

Read More : Uzbekistan Sebut Indonesia Punya Tim Kuat dan Pemain Berkualitas

Amalia mengatakan, angka yang dibentuk BPS melalui IHK dipengaruhi oleh mekanisme harga pasar, maupun dari sisi penawaran.

โ€œAngka Indeks Harga Konsumen (IHK) yang kami sebutkan berdasarkan harga konsumen,โ€ kata Amalia di kantor BPS di Batavia, Selasa (10/1/2024).

Jika terjadi peningkatan pada sisi penawaran tentu saja akan berdampak pada penurunan harga barang, sehingga harga yang diterima relatif turun. Peningkatan pasokan atau persediaan stok dapat disebabkan oleh waktu panen atau penurunan biaya produksi.

โ€œTentunya diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menyimpulkan apakah ini merupakan pertanda menurunnya daya beli masyarakat. Pasalnya, penurunan daya beli tidak bisa dipantau atau disimpulkan dari pertumbuhan angkanya saja. Jadi perlu adanya penelitian lebih lanjut. untuk menggali lebih dalam, dan BPS pasti akan mencoba melihat lebih jauh,โ€ jelasnya.

Selain itu, BPS akan mendalami apakah deflasi yang terus terjadi disebabkan penurunan daya beli masyarakat atau hanya fenomena peningkatan pasokan.

Read More : Ribuan Warga Padati Kelenteng Kwan Tie Miau, Pusat Perayaan Imlek di Pangkalpinang

Kemungkinan lainnya adalah stabilisasi harga berhasil di tingkat pusat dan daerah, karena langkah kebijakan menjaga persediaan juga mempengaruhi pergerakan harga yang diterima konsumen.

BPS sebelumnya mematok inflasi tahunan sebesar 1,84% pada September 2024. Sementara itu, deflasi secara bulanan sebesar 0,12%, dan inflasi secara year to date atau tahun kalender sebesar 0,74%.

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *