Seoul, Beritasatu.com – Presiden Korea Selatan Yoon Seok-yeol mengumumkan pencabutan darurat militer pada Rabu pagi (12/04/2024), beberapa jam setelah Majelis Nasional meminta tindakan tersebut. Keputusan tersebut diumumkan di televisi pada pukul 04.30 waktu setempat.

Read More : Di Depan Mata! Cek Jadwal Libur dan Cuti Bersama Lebaran 2025

“Majelis Nasional baru saja menyerukan diakhirinya darurat militer dan kami telah menarik pasukan yang dikirim untuk menerapkan kebijakan ini. Kami secara resmi akan mengakhiri darurat militer pada rapat kabinet,” kata Presiden John H.

Kantor berita Yonhap melaporkan bahwa Presiden Yoon dengan cepat menyetujui keputusan tersebut.

Ketua Partai Kekuatan Rakyat Han Dong-hoon mendukung Presiden Yoon. Dia menyebut tindakan tersebut sebagai “tragedi besar” dan langsung meminta penjelasan dari presiden. “Semua pihak yang terlibat dalam keputusan ini harus bertanggung jawab,” tegasnya.

Darurat militer di Korea Selatan tiba-tiba diumumkan pada pukul 11 ​​​​pagi tanggal 3 Desember 2024, menyebabkan kekacauan di parlemen dan di jalanan. Presiden Yoon menuduh oposisi, yang menguasai mayoritas parlemen, memihak Korea Utara dan mengacaukan negara melalui pemakzulan pejabat dan pemotongan anggaran.

Kebijakan darurat militer mencakup pelarangan kegiatan parlemen, pengendalian media, dan pelarangan demonstrasi. Tentara mengepung gedung parlemen, namun ratusan pengunjuk rasa berkumpul di luar meskipun cuaca dingin. Di dalam gedung, pejabat parlemen berusaha mencegah tentara memasuki ruang sidang.

Pada Rabu pagi, 190 anggota parlemen berhasil mengadakan sidang darurat setelah memanjat tembok gedung. Mereka segera memutuskan untuk mencabut darurat militer Korea Selatan. Resolusi tersebut disambut dengan tepuk tangan dari para pengunjuk rasa di luar gedung.

Read More : Agenda Kunjungan Pertama Prabowo ke Luar Negeri, Upayakan Investasi Ford dan Volkswagen

Lim Myong-pan, 55, mengkritik keputusan Presiden Yoon. “Darurat militer adalah kejahatan serius tanpa alasan yang jelas. “Ini membuka jalan bagi pemakzulan presiden,” katanya.

Sementara itu, Amerika Serikat, sekutu dekat Korea Selatan, mengatakan pihaknya tidak mengetahui adanya rencana darurat militer. “Kami sangat lega bahwa Presiden telah membatalkan keputusan ini dan menghormati permintaan Majelis Nasional,” kata juru bicara Dewan Keamanan Nasional AS.

Konflik politik di Korea Selatan semakin meningkat menyusul perselisihan mengenai anggaran tahun 2025 antara Partai Kekuatan Rakyat yang dipimpin Presiden Yoon dan Partai Demokrat yang merupakan oposisi. Puncaknya adalah ketika Presiden Yoon mengumumkan darurat militer di Korea Selatan.

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *