Jakarta, Beritasatu.com – Wakil Ketua Komite X DPR Dede Yusuf mengkritisi kenaikan tajam biaya kuliah satu kali (UTF) di perguruan tinggi negeri (PTN). Menurut Dede Yusuf, pemerintah perlu segera mengambil langkah konkrit dengan Skema Pinjaman Mahasiswa sebagai solusi mengatasi mahalnya UKT.

Read More : Senang dengan Putusan MK Terkait UU Pilkada, PDIP: Memungkinkan Banyak Parpol Usung Kepala Daerah

“Kami melihat perlu ada langkah konkrit dari negara untuk mendukung subsidi bagi perguruan tinggi negeri. Idenya bukan untuk mendanai perguruan tinggi negeri secara langsung, tapi untuk meningkatkan jumlah beasiswa yang diberikan,” kata Dede Yusuf, Rabu, saat dihubungi Beritasatu.com . (15/05/2024).

“Saat ini sudah ada beasiswa KIP, Bidikmisi dan LPDP untuk kuliah, namun jumlahnya belum cukup untuk seluruh mahasiswa. Kita perlu mulai memikirkan program pinjaman mahasiswa yang akan dilakukan di bank umum dan didukung dana bantuan,” ujarnya. ditambahkan. .

Dede Yusuf menjelaskan, program pinjaman mahasiswa memungkinkan mahasiswa membiayai studinya dengan pinjaman pemerintah dengan bunga 0%. Setelah menyelesaikan studi dan bekerja, mahasiswa dapat melunasi pinjaman tersebut secara mencicil.

“Mahasiswa yang ingin mendaftar program beasiswa pinjaman mahasiswa bisa mendapatkan pinjaman dengan bunga 0%. Pinjaman ini tidak menggunakan pinjaman tetapi melalui negara untuk mengurangi biaya akademik hingga 50%. Dengan beasiswa dan pinjaman mahasiswa, kita dapat mencapai tujuan sumber daya manusia yang lebih baik, jelas Dede Yusuf.

Pinjaman pelajar atau pinjaman pendidikan adalah pinjaman pelajar atau universitas dari bank untuk membiayai perguruan tinggi. Siswa kemudian harus membayar kembali uang tersebut setelah mereka lulus dan mulai bekerja.

Read More : KPK Usut Korupsi di ASDP, 4 Orang Dicegah ke Luar Negeri

Pinjaman pelajar ini dapat berupa pinjaman hipotek dengan jangka waktu pengembalian yang telah ditentukan, seperti yang terjadi di Amerika Serikat, Kanada, Filipina, dan Thailand. Jenis pinjaman ini dapat menimbulkan beban pembayaran yang signifikan, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

Selain itu, terdapat juga program pinjaman mahasiswa berbasis pendapatan di mana mahasiswa dapat melunasi pinjamannya setelah pendapatannya mencapai ambang batas tertentu. Jangka waktu pengembalian tidak tetap dan umumnya berlaku di banyak negara seperti Australia, Swedia, Inggris dan Jerman.

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *