Nangarhar, Beritasatu.com – Pada Senin (15/7/2024) malam, badai, angin kencang, dan hujan lebat menewaskan 11 anggota sebuah keluarga di distrik Sar Rud, Nangarhar, Afghanistan timur.
Read More : Fiersa Besari Ikut dalam Pendakian, Ini Kronologi Meninggalnya 2 Orang di Puncak Cartenz Papua
Keluarga korban mengaku sedang berkumpul di sebuah rumah di kawasan tersebut untuk merayakan kelahiran seorang anak, tiba-tiba datang badai dan angin kencang yang mengakibatkan 11 anggota keluarga meninggal dunia.
Berdasarkan pemberitaan Tolo News, Kamis (18/7/2024), Mutabar Khan, 60 tahun, warga Nimatullah Shokrullah, Distrik Sarrud, mengatakan empat orang lagi terluka dalam kejadian tersebut.
“Cucu saya baru saja lahir, dan kerabat kami datang untuk merayakannya.” Mutabar Khan berkata, “Kejadian ini terjadi ketika rumah penuh dengan tamu dan kami kehilangan 11 anggota keluarga.
Dalam satu keluarga, pemilik rumah, dua saudara perempuan, satu saudara laki-laki, lima cucu dan istrinya tewas. Hanif, kerabat korban lainnya, mengatakan, “Total korban meninggal sebanyak 11 orang.
Tetangga keluarga tersebut melaporkan upaya mereka untuk membantu selama badai. Samiullah, tetangga para korban, mengatakan: “Ketika kami tiba, situasinya tidak dapat digambarkan. Kami berhasil mengevakuasi 11 orang tewas dan empat orang luka-luka.”
Kerabat dekat mengatakan bahwa keluarga tersebut menghadapi tantangan ekonomi yang parah dan telah meminta bantuan dari pemerintah dan lembaga kemanusiaan.
Read More : Pangkas Antrean Haji, DPR Usul Pemerintah Gunakan Kuota Negara Sahabat
Mirzaman, salah satu kerabat korban, mengatakan keluarga korban hidup dalam kemiskinan dan kehilangan segalanya. “Semua barang dan anak-anak hilang,” katanya.
Angin kencang dan badai di Nangarhar pada Senin malam tidak hanya menimbulkan kerugian pribadi dan finansial, tetapi juga menghancurkan ratusan hektar lahan pertanian, kebun, dan infrastruktur umum di beberapa kabupaten di provinsi tersebut. Badai ini telah menewaskan 47 orang dan melukai 350 lainnya. Selain itu, sekitar 400 rumah telah hancur.
Afghanistan mengalami musim semi yang tidak biasa tahun ini setelah musim dingin yang sangat kering. Pada bulan Mei, banjir menewaskan ratusan orang di negara yang 80 persen penduduknya bergantung pada pertanian.
Negara yang dilanda perang ini sering dilanda bencana alam, sehingga PBB mengklasifikasikannya sebagai salah satu negara paling rentan terhadap perubahan iklim.