Jakarta, Beritasatu.com – Prajogo Pangestu, pengusaha sukses asal Indonesia, pertama kali mencatatkan rekor kekayaan mencapai Rp 1.000 triliun atau setara US$ 62,4 miliar. Ini menjadikannya kompleks terkaya di Indonesia. Menurut Forbes pada tahun 2024, ia menduduki peringkat ke-23 orang terkaya di dunia dengan kekayaan bersih sedikit berbeda dengan David Thomson dan keluarga di peringkat ke-22 dengan kekayaan US$ 72,2 miliar.

Read More : Dukung Pembangunan IKN, PGN Uji Coba Salurkan Gas Bumi ke Hotel Nusantara

Prajogo Pangestu lahir pada tahun 1944, merupakan pendiri Grup Barito Pacific, dan menjabat sebagai ketua utama PT Barito Pacific Tbk sejak tahun 1993. Peningkatan kekayaan tahun ini seiring dengan kenaikan harga saham perusahaannya. saham. Per 17 Mei 2024, PT Petrosea Tbk (PTRO) bulan lalu naik 92,55 persen, saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) naik 38,19 persen, saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) naik 36,48 persen, PT Chandra Asri Pacific Tbk ( TPIA) naik 34,67 persen, dan saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) naik 33,98 persen.

Jelajahi Jalur Karir Prajogo Pangestu 

Prajogo Pangestu memulai karirnya dari nol sebagai sopir angkutan umum di Kalimantan, kemudian bekerja di perusahaan kayu sebelum akhirnya memulai usaha sendiri dengan meminjam modal untuk mendirikan CV Pacific Lumber Coy. Perusahaan tersebut berhasil berkembang dan mampu mengekspor produknya ke pasar luar negeri seperti Eropa dan Amerika, sehingga CV Pacific Lumber Coy kemudian berganti nama menjadi Barito Pacific Timber. 

Berawal dari bisnis perkayuan, Prajogo Pangestu memutuskan untuk mentransformasikan bisnisnya ke bidang petrokimia dan energi bersih untuk keberlanjutan. Langkah ini diambilnya karena menyadari energi berkelanjutan memiliki banyak manfaat penting. Langkah ini tidak hanya memperkuat posisinya dalam industri yang sedang berkembang, namun juga berkontribusi terhadap upaya global untuk mencapai masa depan yang berkelanjutan.

Pada tahun 2007, Prajogo Pangestu mengembangkan usahanya ke sektor lain dengan mengubah nama perusahaannya menjadi PT Barito Pacific. Ia mengakuisisi perusahaan petrokimia bernama Chandra Asri melalui kepemilikan 70 persen. Prajogo Pangestu pun melebarkan sayap bisnisnya di industri batubara melalui perusahaan Petrindo Jaya Kreasi, dimana pada tahun 2023 perusahaan ini akan melaksanakan IPO di bursa yang menandai sebuah langkah penting untuk pertumbuhan bisnisnya. Selain itu, Prajogo Pangestu juga memiliki bisnis energi Go-Geotermal seperti Barito Renewables dan Star Energy Geothermal. 

Selain itu, Prajogo Pangestu juga merupakan pemilik PT Petrindo Jaya Kreasi (CUAN), sebuah perusahaan pertambangan energi, dan PT Petrosea (PTRO), yang bergerak di sektor pertambangan, teknik, pengadaan & konstruksi, serta jasa minyak & gas. Keduanya berkomitmen penuh untuk mengedepankan aspek ESG sebagai bagian dari strategi keberlanjutan Perusahaan. Pada tahun 2023, kekayaan Prajogo Pangestu mencapai US$ 5,3 miliar, yang berarti pada tahun 2024 kekayaannya meningkat 1.047 persen dibandingkan tahun lalu.

Prajogo Pangestu mendirikan Yayasan Baki Barito 

Read More : Sikat Mafia Tanah, AHY Klaim Selamatkan Uang Negara Rp 5,7 Triliun

Prajogo Pangestu berkontribusi kepada masyarakat melalui sebuah lembaga bernama Yayasan Bakti Barito. Landasan ini menstimulasi kondisi-kondisi yang diperlukan untuk Indonesia yang lebih berkelanjutan, adil dan positif serta berkontribusi terhadap kesehatan bumi. Selain itu, Yayasan Bakti Barito memiliki pengalaman pelayanan publik lebih dari sepuluh tahun dalam memberi, bertanggung jawab, mengembangkan potensi manusia, dan menjaga lingkungan.

Pada tahun 2022-2023, Yayasan Bakti Barito bekerjasama dengan Pemda Garut, Dinas Pendidikan Kabupaten Garut, Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Garut dan Star Energy Geothermal mendukung sekolah tersebut meraih penghargaan Sekolah Adiwiyata. Caranya adalah dengan memberikan bantuan segera kepada sekolah, sekolah hijau, perbaikan gedung sekolah, dan edukasi terkait pengelolaan sampah. Dengan demikian, terdapat 25 sekolah yang menerima penghargaan sekolah Adiwiyata dan memberikan manfaat langsung kepada 14.596 siswa dan guru.

Di sisi lain, program Yayasan Bakti Barito yang akan berlanjut hingga tahun 2027 merupakan kerjasama BKKBN, USAID, Tanoto Foundation, BCA dan AMMAN Mineral untuk menurunkan angka kelahiran dengan melaksanakan program bertajuk “Kemitraan untuk Mempercepat Penurunan Angka Kelahiran di Indonesia” ( PASTI). Program ini mencakup pelatihan bagi petugas kesehatan masyarakat, kampanye kesadaran berbasis masyarakat, dan peningkatan akses dan kualitas layanan berbasis kesehatan dan gizi di daerah terpencil. Program ini memberikan komitmen sebesar USD 8,5 juta selama empat tahun ke depan.

Dalam bidang pendidikan, Yayasan Bakti Barito memberikan beasiswa kepada anak-anak karyawan Barito Pacific. Yayasan ini didedikasikan untuk pengembangan pendidikan sejak tahun 2011. Dalam kurun waktu 2018 hingga 2023, Yayasan Bakti Barito telah memberikan 76 beasiswa. Hal ini tidak hanya untuk meningkatkan prospek perekonomian, tetapi juga untuk membentuk masa depan yang lebih cerah bagi generasi muda.

Di bidang ekonomi sirkular, Yayasan Bakti Barito bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Garut dan Chandra Asri cabang Barito Pacific, membangun jalan karet sebagai solusi ekonomi sirkular untuk mengatasi pencemaran lingkungan. Program ini berhasil dilaksanakan dengan membangun jalan aspal plastik sepanjang 50,2 kilometer pada periode 2022-2023, dengan jumlah sampah plastik sebanyak 431,5 ton. Melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, Prajogo Pangestu berhasil melaksanakan program-program tersebut, mencapai hasil positif dalam hal peningkatan kesejahteraan masyarakat dan menjaga kelestarian lingkungan.

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *