JAKARTA, Beritasatu.com – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi tahunan akan mencapai 1,55% pada November 2024. Inflasi tahunan pada bulan November 2024 lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya dan dibandingkan bulan yang sama tahun 2023.

Read More : Jeda Siang Perdagangan Kamis 17 Oktober 2024, IHSG Bertambah 75 Poin

Inflasi year-on-year pada November sebesar 1,55%, tertinggal dari kenaikan indeks harga konsumen pada November 2023 menjadi 106,33, kata Plt Presiden BPS Amalia Adiningar Vidyasanthi di kantor BPS, Jakarta. Pada Senin (2/12/2024).

Berdasarkan belanja, penyumbang inflasi terbesar pada November 2024 adalah kelompok makanan jadi, minuman, dan tembakau. Kelompok tersebut mengalami inflasi sebesar 1,68% dan kontribusi sebesar 0,48%.

“Bagian terbesar pada kelompok ini adalah rokok Yunani yang menyumbang 0,13% pada beras dan 0,11% pada kubis,” kata Amalia.

Ia mengatakan produk lain yang memberikan kontribusi signifikan antara lain kopi bubuk, minyak goreng, tomat, bawang putih, dan daging ayam. Sedangkan emas dan perhiasan beras masing-masing kelompok makanan memberikan sumbangan inflasi masing-masing sebesar 0,36% dan 0,06%.

Melihat wilayahnya, BPS mencatat seluruh provinsi mengalami inflasi. Inflasi tertinggi tercatat di Papua Nugini sebesar 4,35%, sedangkan inflasi terendah tercatat di Bangka Belitung sebesar 0,22%.

Sedangkan jika dilihat dari bagian komponennya, seluruh komponen mengalami inflasi setiap tahunnya. Komponen inti mengalami inflasi tahunan sebesar 2,26% dengan sumbangan inflasi terbesar sebesar 1,44%.

Read More : Presiden Prabowo Minta Investor AS Utamakan Prinsip ESG dalam Investasi

“Komoditas yang cukup menyumbang inflasi antara lain perhiasan, emas, kopi bubuk, minyak goreng, nasi lauk-pauk, dan sewa,” jelas Amalia.

Komponen harga yang dikendalikan pemerintah mengalami inflasi tahunan sebesar 0,82% di bulan November. Komponen ini memberikan sumbangan inflasi sebesar 0,16%. Komoditas yang dominan menyumbang inflasi adalah rokok hand made Yunani dan rokok putih mesin. 

Sementara komponen harga yang berfluktuasi mengalami deflasi sebesar 0,32% yang berkontribusi terhadap deflasi sebesar 0,05%. “Komoditas utama penyumbang deflasi adalah cabai merah dan cabai rawit,” imbuhnya. 

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *