Chicago Beritasatu.com – Harga emas turun tipis pada Rabu (2 Oktober 204) setelah sehari sebelumnya naik lebih dari 1% karena investor menunggu sinyal perekonomian AS dan konflik Timur Tengah.
Read More : Kerap Mangkir Jadi Alasan KPK Tangkap Tersangka Penyuap Mantan Gubernur Maluku Utara
Emas turun 0,5 persen menjadi $2,649.41 per ounce pada hari Selasa (1/10/2204), setelah naik lebih dari 1 persen setelah Iran menembakkan rudal ke Israel. Sementara itu, Emas berjangka AS turun 0,8 persen menjadi $2,669.
Faktor lain yang menentukan kenaikan emas adalah kekuatan dolar. Hal ini membuat emas batangan dalam mata uang dolar AS lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.
“Emas telah dijual karena penguatan dolar AS, namun masih banyak hal yang harus kami lakukan untuk menjual emas dalam 24 jam ke depan,” kata Bob Haberkorn, kepala strategi pemasaran berjangka di RJO.
Namun, dia memperkirakan jika Israel benar-benar menyerang Iran, harga emas bisa mencapai $2.700.
Emas naik 28 persen menjadi tetap tinggi pada $2,685 per ounce di tengah kekhawatiran akan eskalasi di Timur Tengah, termasuk pembalasan Israel.
Di tengah ketidakpastian politik dan kondisi mata uang yang rendah, emas dianggap sebagai investasi yang aman. “Dalam jangka panjang, prospek suku bunga akan mendorong emas,” kata analis komoditas ANZ Daniel Hynes.
Read More : Program PNM Mekaar Membangkitkan Kesejahteraan Perempuan di Serang
Sementara itu, data penggajian swasta AS meningkat sebanyak 143.000 pekerjaan pada bulan September, menurut laporan Pemrosesan Data Ketenagakerjaan Nasional (ADP).
Investor menunggu data non-farm payrolls pada Jumat (4/10/2024) dan mencermati komentar pejabat Fed untuk mendapatkan petunjuk mengenai kebijakan bank sentral.
Perak naik 0,7 persen menjadi $31,63. Platinum naik 2 persen menjadi $1.005 dan paladium naik 1,9 persen.