Sintang, Beritasatu.com – Sopir ambulans diduga meninggalkan jenazah anak tersebut di RSUD Ade M Dijon, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat dan membuangnya di Tempat Pelayanan Umum (SPBU), Senin (15/7/2024). malam.

Read More : Pengungsi Gunung Lewotobi Laki-laki Capai 11.553 Orang

Kejadian ini disebabkan keluarga pasien kehilangan uang karena tidak mampu membayar biaya tambahan yang diminta sopir ambulans.

Rekaman video bayi sang nenek sekarat pun beredar di media sosial. Ia tampak emosional karena baru saja kehilangan cucunya dan mengalami kejadian tidak menyenangkan.

“Kami dimintai uang di rumah sakit Rp1,6 juta. Saya tidak punya uang, saya minta tolong kepada saudara saya dan mereka membayar Rp690.000 ke rumah sakit,” kata Ojong, kakek anak yang meninggal tersebut.

Setelah membayar layanan ambulans ke rumah sakit, jenazah bayi tersebut dikirim ke Desa Nanga Mau, Kecamatan Kayan Hillir.

Namun di tengah perjalanan, sopir ambulans berhenti di sebuah pompa bensin. Sopir yang diketahui bernama Suwardi kemudian meminta uang tambahan untuk membeli diksite senilai Rp 600.000.

“Sopirnya abang, saya minta uang untuk minyak, saya bilang tidak punya uang, saya bayar di kasir, tapi dia bilang itu bukan urusannya,” kata Ojong.

Keluarga terluka karena ucapan pengemudi tersebut. Mereka memutuskan untuk keluar dari ambulans dan membawa jenazah anak kecil itu.

“Hati saya sakit. Kami masih sadar, kalau tidak saya pukul. Saya tidak terima. Cucu saya sudah meninggal,” kata Ojong.

Ambulans berhenti lama di dekat SPBU Tegu Beji. Sedangkan jenazah anak kecil itu dikerjakan oleh kakeknya. Suasananya tegang. Keluarga menolak perawatan pengemudi.

Jenazah bayi tersebut nantinya bisa dibawa ke desa Nanga Mau untuk dimakamkan. 1 jam. Jenazahnya dibawa pergi oleh mobil yang lewat.

Read More : Presiden Jokowi Bertolak ke IKN Hadiri Nusantara TNI Fun Run

Sementara itu, sopir ambulans Suwardi mengatakan, kejadian ini bermula dari kesalahpahaman terkait perbedaan harga bahan bakar minyak (BBM) yang digunakan di ambulans yang dikendarainya.

“Sebenarnya bukan tugas saya malam ini, tapi saya suka meliput teman-teman saya,” ujarnya.

Diakuinya, saat ditelepon keluarga pasien, ia menjelaskan tarif ambulans berbeda dengan tarif ambulans di RSUD Ade M Joyen.

“Ambulans ini menggunakan Dixit yang harganya Rp14.900 per liter. Sedangkan biaya ambulans ditanggung pemerintah sebesar Rp9.500,” ujarnya.

Jadi menurut dia, selisih harga bahan bakar sebesar $5.400 ditanggung oleh keluarga jenazah anak tersebut.

Karena tidak ada konsensus dan bahkan perdebatan, dia memutuskan untuk membuang jenazah bayi tersebut di pompa bensin daripada di ambulans biasa.

“Saya minta pihak keluarga ganti, jadi ada salah paham. Dengan ganti ambulans, pasien merasa lega,” ujarnya.

Suwardi mengaku bersalah atas kejadian tersebut. Ia pun meminta maaf kepada keluarga almarhum atas tindakan tragis yang mereka lakukan.

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *