Jakarta, Beritasatu.com – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menegaskan pemerintah tetap mengelola keuangan negara dengan hati-hati. Pemerintah berupaya menjaga kesehatan pendapatan dan belanja dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), dengan tetap mengakomodasi kepentingan berbagai pihak.

Read More : 24 Persen Investor Kripto di Indonesia Mahasiswa

“Saya pendengar yang baik. Saya selalu mendengarkan semua permintaan dan jika ada ruang fiskal, kami selalu memberikan persetujuan terhadap program-program yang kuat dan dapat dilaksanakan dengan baik. Ini bagian dari kehati-hatian dalam mengelola keuangan publik. Jadi, lakukanlah. kata Sri Mulyani pada acara BNI Investor Daily Summit 2024 di Jakarta Convention Center, Selasa (10/08/2024).

Menurut dia, sikap selektif terhadap belanja negara sangat penting agar anggaran dapat dibelanjakan sesuai dengan kebutuhan negara. Belanja pemerintah berperan dalam mendukung program pembangunan, mendorong pertumbuhan ekonomi dan memberikan perlindungan sosial kepada masyarakat.

“Kalau saya bilang ‘tidak’ berarti tidak ada pembangunan. Buktinya pembangunan masih terus berjalan. Ini soal selektivitas dan kualitas, tapi tentu ini menunjukkan bahwa kita semua membelanjakan uang rakyat secara bertanggung jawab,” ujarnya. ditambahkan.

Sri Mulyani juga menjelaskan, APBN memiliki fungsi counter-cyclical yaitu memberikan keseimbangan ketika perekonomian sedang berada dalam tekanan. Misalnya, pada masa pandemi Covid-19, pemerintah meningkatkan belanja negara karena adanya kebutuhan mendesak untuk melindungi mereka yang terkena dampak pandemi.

“Di masa pandemi Covid-19 ini, kami mendapatkan sebuah penemuan yang luar biasa. Karena situasinya sangat tidak biasa, kami memperkenalkan berbagai instrumen fiskal inkonvensional, salah satunya adalah ekspansi fiskal yang besar dalam berbagi beban dengan Bank Indonesia,” jelas Sri Mulyani.

Read More : Sesi Siang Perdagangan Senin 27 Mei 2024, IHSG Turun ke 7.213

Ia juga menegaskan, Indonesia merupakan salah satu negara yang dapat melaksanakan konsolidasi keuangan publik dengan cepat. Defisit anggaran yang semula mencapai 6,14% terhadap produk domestik bruto (PDB) pada tahun 2020, berhasil diturunkan menjadi 4,57% pada tahun 2021, meski masih di atas 3% karena kebijakan darurat penanganan pandemi. Tren positif ini terus berlanjut pada tahun 2022 dan 2023, dengan defisit yang terus mengecil hingga mencapai 2,35% dan 1,61% PDB.

“Indonesia adalah salah satu dari sedikit negara di dunia yang berhasil melakukan konsolidasi fiskal pascapandemi hanya dalam waktu dua tahun. Orang sering mengira shock sudah berlalu, padahal dampak psikologisnya (scarring effect) sangat dalam,” kata Sri Mulyani. . . 

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *