Jakarta, Beritasatu.com – Sejak 5 Juli 2024, banyak orang yang dirawat di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Sambang Lihum, Benjaramsin karena mabuk batu kecubung. Dari 56 pasien yang dirawat, dua pasien meninggal dunia, sedangkan 7 lainnya masih dalam perawatan intensif.

Read More : Promosikan Situs Judi Online, Selebgram di Jambi Raup Keuntungan Rp 50 Juta

Psikolog, konselor narkoba di RSJ Sambang Lihum, dr. Firdaus Yamani menjelaskan, banyak pasien yang tidak mengonsumsi kecubung secara langsung, melainkan dalam bentuk pil putih yang diyakini mengandung sari kecubung.

โ€œSaat kami berbicara dengan pasien, kami mengetahui bahwa mereka meminum pil putih yang tidak diketahui keberadaannya mengandung ekstrak kecubung. Kini, BNN dan polisi sedang menyelidiki kandungan dalam pil tersebut untuk memastikan adanya ekstrak kecubung, โ€ujarnya dalam jumpa pers. untuk administrasi. . Pengurus Besar (PB) Ikatan Dokter Indonesia (IDI) baru-baru ini.

Kecubung yang memiliki nama lain terompet bidadari ini merupakan tanaman perdu yang banyak tumbuh di negara-negara yang beriklim tropis dan subtropis, termasuk Indonesia. Selama berabad-abad, tanaman kecubung telah digunakan untuk pengobatan tradisional di berbagai negara, seperti mengobati asma, batuk, muntah, nyeri, anestesi dan lain-lain.

Namun karena penyalahgunaan dan efek halusinogen dari tanaman kecubung, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) melarang penggunaan kecubung sebagai obat tradisional karena penyalahgunaan dan efek halusinogennya.

Berdasarkan kajian BNN tahun 2006 tentang penyalahgunaan dan peredaran obat-obatan terlarang di kalangan pelajar di 18 provinsi di Indonesia, provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) tercatat menjadi provinsi dengan jumlah kasus penyalahgunaan batu kecubung tertinggi.

Bagian kecubung Dr. Firdaus menjelaskan, mengandung senyawa alkaloid tropin seperti atropin, skopolamin, dan hioslamin. Setiap biji kecubung mengandung 0,1 mg atropin. Kadar tertinggi terdapat pada bunga dan daun. Setiap bunga kecubung mengandung 0,65 mg skopolamin dan 0,3 mg atropin. Dosis mematikan atau mematikan adalah lebih dari 10 mg anthropin, sedangkan dosis mematikan skopolamin lebih dari 2 sampai 4 mg.

Read More : Jokowi Akhirnya Bisa Tidur Nyenyak di IKN

Bahaya batu kecubung lebih berbahaya dibandingkan ganja. Dari segi kecanduan, batu kecubung lebih membuat ketagihan dan memiliki risiko kematian lebih tinggi. Pengguna batu kecubung juga berisiko mengalami kerusakan otak permanen dan masalah mental yang serius. Ganja memiliki efek negatif terutama pada kesehatan pernapasan dan fungsi kognitif, efek ini biasanya ringan dan sementara dibandingkan dengan efek batu kecubung yang kuat dan bertahan lama.

Gejala Intoksikasi Kecubung Gejala keracunan kecubung muncul 30-60 menit setelah dikonsumsi dan dapat berlangsung 24-48 jam setelahnya. yang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut.- Inkoherensi bicara (gangguan) dan penglihatan.- Kulit dan mukosa kering pada saluran cerna dan saluran pernafasan bagian atas.- Sembelit, pupil melebar (midriasi).- Fotofobia.- Hipertensi atau hipertensi .- Tubuh panas. – Bradikardia atau takikardia – Aritmia (detak jantung tidak teratur) – Iritabilitas (gelisah (Kebingungan).- Kebingungan, retensi urin, dan depresi.

Pertolongan pertama Jika batu kecubung tertelan, Dr. Firdaus memberikan sedikit tipsnya sebagai berikut. Langkah pertama adalah meludahkannya dengan memasukkan jari ke ujung tenggorokan 2. Setelah itu, banyak minum air putih agar racunnya bisa keluar melalui urin.

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *