Jakarta, Beritasatu.com – Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) 2014-2019 Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadim Makarim mengubah kurikulum pendidikan menjadi kebebasan belajar dan Pendidikan Nasional mengkritisi kebijakan pembatalan pendidikan. Penyelidikan. Menurut JK, mereka adalah pelajar dan mahasiswa Indonesia yang sudah lulus namun tidak bisa bekerja.
Read More : Kecam Usulan Ahmad Dhani, Komnas Perempuan Minta MKD Bertindak
JK mencontohkan lulusan sekolah kejuruan (VSE) yang tidak memasuki dunia kerja pada masa jayanya, namun banyak yang menjadi pegolf. “70% dari empat pegolf di lapangan golf itu lulusan sekolah kejuruan, lalu mana yang salah? Ekonomi salah atau pendidikan salah? Keduanya salah. Ekonomi tidak berkembang, jadi tidak ada yang masuk SMK. lyceum Tidak ada pekerjaan, atau mereka tidak bisa bekerja sampai lulus, makanya terjadi,” kata JK dalam diskusi kelompok terarah “Kebijakan Anggaran Pendidikan” pada Sabtu (7/9/2024).
Menurut JK, kurikulum pendidikan di Indonesia tidak boleh sama dengan Finlandia dan Singapura. “Populasi mereka 5 juta dan pendapatan per kapita $70.000, populasi kita 280 juta tapi pendapatan per kapita $4.500. mau ngomong kimia ada labnya, kalau mau ngomong fisika ada labnya, “game, terserah kamu mau apa, ada Ada ruang,” kata J.K.
Menurut JK, india harus belajar dari India, China, Korea, dan Jepang. “Kenapa hanya India, Jepang? CEO hampir semua perusahaan besar di Amerika orang India, Microsoft, Twitter semuanya dari India, nanti Presiden AS Kamala Harris dari India, ibunya dari India, Perdana Menteri Inggris dari India, London Mayer berasal dari India, India: “Artinya saya hebat di sana. Kenapa China berkembang, pendidikannya bagus, kita belajar di sana,” kata JK.
Menurut JK, inti kurikulum pendidikan di negara-negara tersebut adalah ujian nasional. “Begini, kita sekolah kapan, kalau harus ujian terus belajar kapan ya? Kalau tidak ada ujian, kapan kita belajar? Semua kampus bebas, kebebasan apa itu? Kalau tidak Tinggalkan kebebasan, mereka bahkan tidak belajar? – kata J.K.
Read More : Kasus Firli Bahuri, Polda Metro Jaya Kantongi 4 Alat Bukti
JK mengaku konservatif dalam bidang pendidikan. Menurutnya, tidak mungkin melepas 70 ribu mahasiswa tersebut. “Saat membuat kurikulum mandiri, jangan ditiru satu sekolah saja, tiba-tiba semua sekolah ingin kurikulum mandiri. Ini hasilnya,” kata J.K. Mereka bilang.
Menurut JK, saat menghadapi ujian, siswa seharusnya tidak terlalu stres karena jika tidak mendapatkan pekerjaan maka stresnya akan semakin besar. “Ini tidak biasa. Mereka lulus bahkan sebelum lulus, tapi tidak bisa bekerja. Jadi itulah yang terjadi,” tutupnya.