Jakarta, Beritasatu.com – Direktur Eksekutif Lembaga Penelitian Indonesia (LSI) Djayadi Hanan mengatakan presiden dan wakil presiden terpilih, Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka kemungkinan besar akan membentuk pemerintahan koalisi. Djayadi mengatakan, koalisi gemuk ini akan berdampak pada bertambahnya jumlah kementerian di kabinet Prabowo-Gibran.
Read More : Polisi Ungkap Modus Petugas KPK Gadungan yang Peras Mantan Bupati Rote
Djayadi menjelaskan kepada Beritasatu.com, Senin (16/9): “Kalau dilihat sekarang, banyak kementerian yang fungsinya mirip atau tumpang tindih. Misalnya, beda kementerian ada bansos, sedangkan satu kementerian bisa punya fungsi yang lebih spesifik.” /2024).
Djayadi mengatakan, beberapa fungsi seperti pengelolaan data seringkali tersebar di beberapa kementerian, antara lain BPS, Kementerian Dalam Negeri, dan Kementerian Sosial. Hal ini menunjukkan adanya duplikasi atau konsolidasi jabatan di kementerian yang berbeda.
“Yang paling penting adalah menjelaskan alasan penambahan kementerian. Biasanya struktur kabinet, besar atau kecil, didasarkan pada tiga hal utama: pertimbangan teknis, politik, dan kepentingan umum.”
Djayadi mengatakan KHDR saat ini tidak membatasi jumlah kementerian sehingga pembicaraan penambahan kementerian menjadi 44 bisa menjadi kenyataan.
“Saat ini belum ada informasi pasti berapa jumlah pasti kementerian di kementerian tersebut. Namun informasi yang dirilis menunjukkan kemungkinan masuk 44 kementerian. Pertanyaannya, apakah Indonesia membutuhkan lebih banyak atau hanya sekedar akomodasi saja. untuk koalisi besar?” katanya.
Read More : Kasus Bandung Smart City, KPK Tahan 4 Tersangka
Djayadi kembali menegaskan pentingnya transparansi dalam penjelasan susunan kabinet untuk memastikan penambahan menteri didasarkan pada kebutuhan nyata dan bukan sekedar kepentingan politik.
“Tanpa penjelasan yang ambigu, hal ini menunjukkan bahwa kabinet ini tidak dirancang untuk efisiensi dan efektivitas pemerintahan, namun untuk akomodasi politik.”