Nusa Dua, Beritasatu.com – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebut target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) baru mencapai 17%. Faktanya, pemerintah bertujuan untuk mencapai semua SDGs pada tahun 2030.
Read More : IHSG Kamis 16 Mei 2024 Ditutup Menguat 0,93 Persen
Padahal tahun 2030 tinggal 6 tahun lagi dan baru 17% tujuan SDG yang tercapai. Kata Jokowi pada pembukaan Joint Forum on High-Level Multi-Stakeholder Cooperation dan Indonesia-Africa Forum: “Mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan harus menjadi fokus utama pembangunan global yang sejalan dengan prioritas pembangunan nasional dan daerah.” Hotel Mulia di Bali, Senin (2/9/2024).
SDGs merupakan komitmen global dan nasional untuk memperbaiki masyarakat, termasuk 17 tujuan dan target global untuk tahun 2030, yang diumumkan oleh negara-negara maju dan berkembang di Majelis Umum PBB pada bulan September 2015.
Sebanyak 17 tujuan, yakni bebas kemiskinan, bebas kelaparan, hidup sehat dan bahagia, pendidikan berkualitas, kesetaraan gender, air bersih dan sanitasi yang layak, energi bersih dan terjangkau, pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, industri, inovasi dan infrastruktur, pengurangan kesenjangan. kota dan pemukiman yang berkelanjutan, konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, pengelolaan perubahan iklim, ekosistem laut, ekosistem darat, perdamaian, keadilan dan institusi yang kuat, kerjasama untuk mencapai tujuan.
Jokowi menegaskan, pencapaian SDGs memerlukan visi dan strategi baru. Dalam hal ini, diperlukan suatu terobosan agar Indonesia dan seluruh negara dapat mengantisipasi tekanan perekonomian global sekaligus terus berupaya mencapai SDGs.
Read More : Menteri Koordinator Infrastruktur dan Kewilayahan AHY Paparkan Target 100 Hari Kerja
“Makanya kita perlu arah dan visi baru, perlu strategi baru. “Kita memerlukan langkah-langkah taktis baru untuk mencapai pembangunan yang lebih adil dan inklusif bagi negara-negara berkembang,” jelas Joko Widodo.
Sebelumnya, Wakil Menteri Keuangan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, untuk mendukung proyek pembangunan berkelanjutan, Indonesia mengadopsi metode pembiayaan inovatif seperti pembiayaan campuran.