JAKARTA, Beritasatu.com – Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengimbau seluruh negara mewaspadai ancaman krisis pangan pada tahun 2050 akibat pemanasan global. Presiden mengatakan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga telah memperingatkan adanya neraka iklim. Suhu bumi yang lebih hangat akan mencapai rekor tertinggi di tahun-tahun mendatang
Read More : Polisi Diminta Tak Ikut Campur dalam Ekshumasi Afif Maulana
“Saya pikir hadirin sekalian telah mendengar peringatan Sekretaris Jenderal PBB bahwa dunia sedang menuju neraka iklim. Mengerikan, iklim yang buruk. Suhu akan mencapai rekor tertinggi di tahun-tahun mendatang, hati-hati.”
Gelombang panas yang terjadi saat ini juga berdampak pada banyak negara, termasuk India dan Myanmar.
“Tahun lalu kita mengalami gelombang panas, masa panas. Di India suhunya mencapai 50 derajat, di Myanmar 45,8 derajat, panas sekali,” ujarnya.
Jokowi mengatakan ancaman iklim atau suhu tinggi dapat menyebabkan kekeringan dan krisis pangan. Jika ancaman ini tidak diatasi, dunia bisa menghadapi krisis pangan atau kelaparan parah pada tahun 2050.
“Kalau ada yang kepanasan mungkin bisa masuk ke dalam rumah dan berlindung, itu bisa saja, tapi dari segi makanan hati-hati. WHO mengatakan kalau dibiarkan seperti sekarang, akan terjadi kelaparan dunia pada tahun 2050,” ujarnya.
Read More : Ekonom Sebut Ketahanan Pangan Terganggu Akan Tingkatkan Angka Kemiskinan
Jokowi memerintahkan Kementerian Pertanian (Kementon) dan Kementerian PUPR bekerja sama dengan TNI memasang dan membangun lebih dari 20.000 pompa untuk memitigasi ancaman neraka iklim.
Pompa diangkat dari sungai untuk mengairi sawah. Baik itu sungai kecil atau sedang, semua orang menggunakan air, jangan sampai sampai ke laut. Beberapa pompa telah dikirim ke Kodam. Kemarin saya cek di Jateng, sudah masuk 1400 pompa, akan kita tambah lagi. Khusus di sektor manufaktur Mulai Juli, Agustus, September kita siap, biar produksinya tidak turun, itu targetnya. kata Jokowi.
Dalam waktu 10 tahun, Jokowi menargetkan penyelesaian pembangunan 61 bendungan dan waduk. 43 di antaranya telah ditemukan sejauh ini. Seperti Bendungan Amoro di Kabupaten Konawe Provinsi Sulawesi Tenggara, Bendungan Sepaku Semoi di Kabupaten Penajam Pasar Utara, Provinsi Kalimantan Timur, dan Bendungan Tiu Suntuk di Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB).