Solo, Beritasatu.com – Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta hasil kajian kebijakan publik yang disusun Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) dapat memberikan rekomendasi, rencana, proyek, dan strategi secara rinci untuk mendukung proses pembangunan ekonomi Indonesia. Hal ini sangat penting untuk menghadapi tantangan perekonomian di masa depan.

Read More : 14 Lokasi Samsat Keliling Jadetabek yang Buka Hari Ini

“Mudah-mudahan kajian ISEI ini tidak hanya tentang desain makro saja, tapi tentang rencana dan strategi taktis serta strategi detailnya. Kalau kita menemui kendala, kita akan tahu jalan apa yang kita butuhkan, bukan hanya yang besar. Proyek yang sulit.” Untuk diterapkan pada situasi saat ini,” kata Jokowi saat membuka Kongres ISEI XXII dan Seminar Nasional Tahun 2024 di Hotel Alila Sulu, Jawa Tengah, Kamis (19/9/2024).

Jokowi menjelaskan, kebijakan dan strategi tersebut diperlukan untuk mengatasi tiga tantangan utama Indonesia dalam ketidakpastian perekonomian global. Tantangan tersebut antara lain perlambatan ekonomi global, peningkatan otomatisasi, dan transisi menuju gig economy.

Tantangan pertama adalah melambatnya perekonomian global. Menurut Bank Dunia, perekonomian global hanya akan tumbuh sebesar 2,7% pada tahun 2023. Selain itu, diperkirakan akan turun menjadi 2,6% pada tahun 2024 dan sedikit di bawah 2,7%. pada tahun berikutnya akan meningkat,” jelas Presiden.

Selain itu, Jokowi juga menyoroti kebijakan moneter ketat yang diterapkan bank sentral di berbagai negara untuk mencegah inflasi.

Lebih lanjut dikatakannya, ketika kebijakan moneter semakin ketat maka produksi industri akan menurun dan perdagangan internasional otomatis menurun.

Tantangan lain yang disoroti Presiden Jokowi adalah peningkatan otomatisasi di berbagai sektor. Menurut Jokowi, diperkirakan pada tahun 2025 sekitar 85 juta pekerjaan akan hilang akibat meningkatnya pertumbuhan otomatisasi.

“Saat ini, otomasi berkembang pesat, mulai dari otomasi mekanis hingga munculnya kecerdasan buatan (AI) dan akan menyebabkan hilangnya 85 juta pekerjaan di seluruh dunia.” kata Jokowi.

Read More : SKB Larangan Operasi Truk 16 Hari Rugikan Pengusaha Rp 5 Triliun

Tantangan ketiga, lanjut Jokowi, adalah gig economy atau ekonomi paruh waktu, tren ini jika tidak dikelola bisa menjadi ancaman bagi Indonesia yang akan mendapat bonus demografi pada tahun 2030.

“Perusahaan kini lebih memilih pekerja mandiri, pekerja lepas, atau pekerja kontrak jangka pendek untuk mengurangi risiko ketidakpastian global. Jika tidak diatur, hal ini akan membatasi kesempatan kerja bagi pekerja lokal,” kata Jokowi.

Oleh karena itu, Presiden Jokowi menekankan agar fokus pemerintah diarahkan pada penciptaan lapangan kerja.

“Kedepannya lapangan kerja akan lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah pekerja. Ini yang patut kita harapkan. Bonus demografi tahun 2030 bisa menjadi kekuatan bagi kita, namun juga bisa menjadi beban jika tidak dikelola. ” – pungkas Jokowi.

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *