Jakarta, Beritasatu.com – Jepang memperluas budayanya sehingga pekerjanya bekerja empat hari dalam seminggu. Namun upaya tersebut menemui kesulitan, karena budaya kerja keras Jepang sulit dihilangkan.
Read More : Luhut: Pemimpin Dunia Perlu Berkolaborasi Wujudkan Ketahanan Air Lewat Blended Finance
Mengutip CNBC International, Selasa (24/9/2024), pemerintah Jepang mengkampanyekan reformasi gaya kerja dengan tujuan memperkenalkan jam kerja yang lebih pendek dan fleksibel, serta menetapkan batasan jam lembur.
Kementerian Luar Negeri Jepang memberikan pendanaan kepada perusahaan untuk melaksanakan program pemerintah. Selain itu, pemerintah akan memberikan layanan konsultasi gratis.
Langkah ini menyusul usulan pemerintah pada tahun 2021. Namun, saat itu pembicaraan mengenai pengurangan jam kerja belum cukup dipertimbangkan.
Peneliti di sekolah bisnis terkemuka di Jepang, Tim Craig, mengatakan kebiasaan orang Jepang bekerja berjam-jam merupakan budaya sosial.
“Ini (budaya kerja keras) di Jepang tidak akan berubah dengan cepat,” ujarnya.
Ia juga mengatakan bahwa orang Jepang sangat menghargai pekerjaannya, karena seolah-olah itu adalah bagian hidup yang baik. Namun, ada kalanya tekanan sosial berperan.
“Jika mereka pulang lebih awal, orang lain yang bekerja dengan kami akan curiga, jadi mereka harus bekerja keras untuk berubah.” Itu sungguh bukan hal yang baik,” jelas Craig.
Sementara itu, Ekonom Kebijakan Fujitsu Martin Schulz mengatakan tempat kerja masyarakat Jepang merupakan tingkat interaksi sosial tertinggi. Staf bersedia untuk tinggal lebih lama dan membantu kelompok dan pergi makan malam.
Read More : PKS Nilai Kebijakan PPN 12 Persen Tidak Tepat
“Menjadi bagian dari perusahaan sama saja dengan menjadi bagian dari komunitas, sehingga akan membuat jam kerja menjadi lebih panjang,” ujarnya.
Pada bulan Oktober 2023, Kementerian Kesehatan Jepang menerbitkan surat kabar yang membahas tentang panjang jam kerja masyarakat di negara Sakura. Hal ini dikaitkan dengan tingkat depresi, stroke, atau kematian yang lebih tinggi akibat terlalu banyak bekerja.
Pada tahun 2022, 2.968 orang di Jepang akan meninggal karena bunuh diri akibat karoshi. Jumlah itu meningkat dari 1.935 pada tahun 2021.
Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa 10,1% laki-laki dan 4,2% perempuan bekerja lebih dari 60 jam seminggu, dan mereka bekerja berjam-jam di Karoshi.
“Saya pikir ini akan memakan waktu (menerapkan empat hari kerja dalam seminggu) agar bisa diterima, karena kita tidak terbiasa dengan perubahan,” kata Hiroshi Ono, profesor humaniora di Universitas Hitotsubashi.