Ponorogo, Beritasatu.com – Fiidiyow Ku Faafa Warbaahinta Bulshada Ayaa Muujineysa di Dadka Deggan Sumberrejo Hamlet, Bonronogo, Ponorogo, Ponorogo, Ponorogo, Plorogo, Ay Tahay di Webiga Kaiga, Guda Gud. Orang -orang terpaksa melakukan karena jembatan di Ponorogo Limest adalah satu -satunya yang mendekati kuburan banjir.
Read More : 1 Peleton Brimob Polda Papua Masih Buru Bripda Aske Mabel Pencuri 4 Senpi Polres Yalimo
Peristiwa itu terjadi pada hari Rabu (19 Februari 2025) pukul 16:00 Wil, ketika tubuh Saiton (70) tubuh Saiton harus dimakamkan di sungai. Presiden RT 06, Paniran, mengatakan jembatan itu adalah bentuk terbesar Ponorogo Hamlet di Ponorogo Hamlet pada hari Senin (1725), jadi tidak ada jalan lain ke makam.
“Jembatan itu rusak, satu -satunya alternatif yang harus dibesarkan, karena sungai tidak dapat digunakan,” kata orang Pagan, Kamis (20 Februari 2025).
Proses pemakaman disebabkan oleh perjuangan. Orang-orang harus mengikuti seluruh peti mati sungai, dan kemudian menariknya dengan labu untuk memanjat empat ratus ratus di atas bagian atas. Berkat kolaborasi, lusinan penduduk setempat telah berhasil membawa tubuh untuk beristirahat.
Panriri menambahkan, jarak antara rumah duka dan makam sekitar dua kilometer tanah sulit diatasi.
“Satu -satunya cara adalah ini, jadi harus dilahirkan,” tambahnya.
Read More : Jadi Ketum PBSI, Fadil Imran: Tidak Ada Lagi Kubu-kubuan
Sementara itu, seorang penduduk dinamai untuk orang yang disiapkan yang diumumkan berjalan hingga lima kilometer karena jalannya dipotong.
“Ya, dia memutuskan untuk melewati sungai, sepeda motor ada di atas, jika dia bisa bertahan lima kilometer,” katanya.
Laporan sebelumnya, jembatan adalah satu -satunya cara untuk mendekati penduduk Hamlet di Ponorogo pada hari Senin (1725). Oleh karena itu, 400 orang empat RT di empat RT di Sumanjojo Hamlet, sebuah kota Bungkal, jalannya sekarang menjadi karena jalannya benar -benar kecewa.