Jakarta, Beritasatu.com – Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China diperkirakan akan semakin meningkat atau memburuk menjelang pemilu presiden Amerika Serikat (Pilpres). Apalagi, menjelang pemilu presiden sendiri pada 5 November 2024. Kepala Investasi Infovesta Utama Vavan Hendriana mengatakan, setelah pemilu Amerika tahun depan, mungkin permasalahannya akan berkurang.

Read More : Jokowi Beri Tugas Tambahan BPDPKS Urusi Kakao dan Kelapa

Namun saat ini saya rasa hal tersebut akan selalu menjadi isu hangat di Amerika Serikat, kata Vavan Hendriana, Rabu (29/5/2024).

Menurut Wawan, ada dua kandidat kuat yang akan mengikuti Pilpres AS 2024, Joe Biden dan Donald Trump. Keduanya mempunyai posisi ketika memanfaatkan isu perdagangan ini untuk meraih dukungan publik AS dalam berpolitik. Oleh karena itu, bukan tidak mungkin meningkatnya perang dagang dapat menyebabkan melemahnya perekonomian dunia.

โ€œSangat mungkin, malah kalau kita bicara China, tidak peduli perang dagangnya, ekonomi dan rantai pasoknya mulai melambat. Mereka menuju ke negara yang sama,โ€ jelasnya.

Namun, situasi terus berlanjut, di satu sisi mesin utama penggerak perekonomian dunia, Tiongkok, mengalami pertumbuhan yang lambat. Namun secara regional, perekonomian lain mulai menguat karena kebijakan perdagangan ini. Jadi, dia menambahkan,

โ€œSebenarnya tahun ini cukup sulit bagi perekonomian dunia, tapi semoga masa depan lebih baik.โ€

Sekadar informasi, Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden pada Selasa (14/5/2024) menaikkan harga barang asal China.

Read More : Dibuka Menguat, IHSG Awal Pekan Terkoreksi

Pemerintah AS memperkirakan tarif baru yang ketat terhadap barang-barang Tiongkok ini akan melindungi bisnis Amerika dari persaingan tidak sehat. Dampaknya, perekonomian Indonesia bisa terdampak karena bisa saja terjadi perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok.

Kenaikan harga tentu tidak akan tinggal diam di Tiongkok, karena tampaknya mereka akan menemukan cara untuk melawan. Perang dagang antara Tiongkok dan Amerika Serikat yang terjadi pada tahun 2018 telah melemahkan perekonomian dunia dan menimbulkan ketidakpastian di pasar komoditas dunia.

Oleh karena itu, perlambatan perekonomian dunia dan akselerasi dolar yang tinggi untuk jangka waktu yang lama membuat harga-harga menjadi sulit. Suku bunga yang tinggi dalam jangka panjang dapat mendorong modal asing keluar dari pasar keuangan dalam negeri (capital flight). Terutama di negara-negara berkembang (emerging market), seperti Indonesia.

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *