Teheran, Beritasatu.com – Iran membuka batas waktu pendaftaran calon pemilihan presiden (pilpres) selama lima hari, mulai Kamis (30/5/2024) ini. Mereka yang mendaftar pada pemilihan presiden yang dijadwalkan pada 28 Juni 2024 bertujuan untuk menggantikan Ebrahim Raisi yang tewas dalam kecelakaan helikopter pada 19 Mei.
Read More : Bukan Kim Jong-un, Nyamuk Malaria Kini Jadi Ancaman bagi Korea Selatan
Persyaratan calon presiden adalah berusia antara 40 hingga 75 tahun dan memiliki minimal gelar master. Semua kandidat harus mendapat persetujuan akhir dari Dewan Wali Iran yang beranggotakan 12 orang.
Dewan tersebut terdiri dari ulama dan ahli hukum yang keputusan akhirnya diawasi oleh Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Panel tersebut tidak pernah menerima perempuan, misalnya, atau siapa pun yang menyerukan perubahan radikal dalam pemerintahan negara.
Raisi, anak didik Khamenei, memenangkan pemilihan presiden Iran tahun 2021 setelah Dewan Wali mendiskualifikasi semua penantang lainnya. Ini merupakan jumlah pemilih terendah dalam sejarah Iran dalam pemilihan presiden.ย Baca juga: Presiden Iran Meninggal, Kebijakan Terhadap AS, Hamas, dan Israel Tetap Tidak Berubah
Siapa yang akan melamar dan berpotensi menerima masih menjadi pertanyaan terbuka. Penjabat presiden negara itu, Mohammad Mokhber, yang sebelumnya merupakan birokrat di belakang layar, bisa menjadi favorit karena terlihat bertemu dengan Khamenei.ย
Kandidat lain yang juga telah dibahas sebagai calon presiden termasuk mantan Presiden Mohammad Ahmadinejad dan mantan Presiden reformis Mohammad Khatami. Namun pertanyaannya apakah mereka akan diizinkan untuk mencalonkan diri masih menjadi pertanyaan.
Read More : PUPR Kebut Proyek Tol di Atas Laut Semarang-Sayung
Periode lamaran lima hari berakhir Selasa depan. Dewan mengharapkan untuk mengumumkan daftar final kandidat dalam waktu 10 hari. Hal ini akan mempersingkat masa kampanye selama dua minggu sebelum pemungutan suara pada akhir Juni.
Sementara itu, perekonomian Iran telah mengalami kesulitan selama bertahun-tahun akibat jatuhnya mata uang real. Protes meluas di seluruh negeri, yang terbaru adalah kematian Amini setelah dia ditangkap karena dicurigai tidak mengenakan jilbab seperti yang diinginkan pihak berwenang. Komisi PBB mengatakan pemerintah Iran bertanggung jawab atas โkekerasan fisikโ yang menyebabkan kematian Amini.
Raisi menjadi presiden Iran kedua yang meninggal saat menjabat. Pada tahun 1981, ledakan bom menewaskan Presiden Mohammad Ali Rajai di hari-hari kacau setelah Revolusi Islam.