Jakarta, Beritasatu.com – Hans Kwi, ekonom keuangan dan praktisi pasar modal, memperkirakan investor akan tertarik pada perusahaan yang bergerak di sektor energi baru dan terbarukan (EBT) yang berniat mencatatkan sahamnya di bursa melalui penawaran umum perdana membawa. Penawaran (IPO). Hal ini sejalan dengan tren positif perkembangan energi hijau di Indonesia dan global.
Read More : Hard Gumay Ramal Sherina Munaf Sakit Fisik, Alami KDRT?
“Hal ini kemungkinan akan menjadi sentimen positif bagi perusahaan energi terbarukan yang berencana IPO,” ujarnya, seperti dikutip Antara, Kamis (12/12/2024).
Dalam berbagai pertemuan internasional, seperti kunjungan ke Tiongkok, Amerika Serikat, Inggris, Uni Emirat Arab, serta KTT APEC di Peru dan keikutsertaan dalam pertemuan G20 di Brazil, Presiden Prabowo Subianto juga menegaskan komitmennya terhadap mendukung Indonesia. Pengembangan sumber energi terbarukan.
Pemerintah Indonesia telah menetapkan target pengembangan energi terbarukan sebesar 75 gigawatt (GW) pada tahun 2040, sebagaimana diumumkan pada Conference of the Parties (COP) 29 di Azerbaijan.
Hans meyakini arah kebijakan global dan dukungan pemerintah terhadap energi terbarukan memberikan dampak positif bagi perusahaan EBT yang go public. Menurutnya, tren tersebut dapat menarik minat investor untuk melakukan IPO perusahaan energi ramah lingkungan.
“IPO (EBT) perusahaan-perusahaan di bidang energi terbarukan diharapkan mendapat respon positif dari investor. Hal ini disebabkan adanya prioritas pemerintah secara nasional dan internasional untuk menciptakan lingkungan yang berkelanjutan, termasuk melalui pengembangan energi hijau.” jelas. Hans.
Ia juga menyarankan agar investor mencermati rencana IPO perusahaan EBT dan profil perusahaannya, karena setiap jenis energi hijau memiliki karakteristik dan tantangannya masing-masing.
Misalnya pembangkit listrik tenaga panas bumi memerlukan investasi besar dan biaya pemeliharaan yang cukup tinggi. Sedangkan energi arus pasang surut menghadapi kendala teknis, dan energi angin relatif tidak stabil karena dipengaruhi oleh kondisi angin.
“Tetapi pada akhirnya fokus kami adalah melihat potensi profitabilitas perusahaan energi terbarukan,” tambahnya.
Hans juga menyoroti potensi pertumbuhan kebutuhan listrik sejalan dengan target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8%. Pertumbuhan ini diperkirakan akan meningkatkan sektor industri dan manufaktur yang pada akhirnya akan meningkatkan kebutuhan listrik.
Read More : Hyundai Palisade Baru Punya Fitur yang Bikin Pemilik Mobil Lama Iri
Ia mencatat, tren positif ini juga mendorong perusahaan-perusahaan besar yang sebelumnya bergantung pada energi fosil, seperti batu bara, mulai memasukkan sumber energi terbarukan ke dalam portofolio bisnisnya.
Untuk mempercepat transisi ke sumber energi terbarukan, Haynes menyarankan agar pemerintah memberikan insentif berupa kebijakan fiskal, peraturan pendukung dan insentif lainnya. Misalnya, meskipun Indonesia mempunyai banyak potensi energi surya, namun pemanfaatannya saat ini masih sangat rendah.
Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya pengembangan pembangkit listrik berbasis energi terbarukan untuk mendukung ekosistem kendaraan listrik yang saat ini sangat bergantung pada listrik berbasis bahan bakar fosil.
“Mengganti kendaraan dengan kendaraan listrik tanpa memperbaiki sumber energi terbarukan masih belum cukup efektif dalam mengurangi emisi karbon,” tegasnya.
Menurut Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), potensi energi terbarukan Indonesia sebesar 3.687 GW pada paruh kedua tahun 2024, namun tingkat pemanfaatannya baru mencapai 0,3 persen atau sekitar 13.781 megawatt (MW).
Rinciannya, kapasitas energi surya mencapai 3.294 GW, namun yang terpakai baru 675 MW, energi angin berkapasitas 155 GW yang terpakai hanya 152 MW, potensi hidro 95 GW, yang terpakai 6.697 MW, arus laut 63 gigawatt bioenergi yang belum dimanfaatkan. 57 GW menggunakan 3408 MW serta 23 GW menggunakan panas bumi sebesar 2597 MW.
Besarnya potensi EBT di Indonesia memberikan peluang bagi perusahaan EBT yang melakukan IPO untuk memanfaatkan permintaan investor di pasar modal.