Jakarta, Beritasatu.com – Pendiri aplikasi keuangan Pluang Klaudia Colonas mengatakan di era digital saat ini, banyak masyarakat Indonesia yang belajar berinvestasi di media sosial seperti TikTok dan Instagram. Ia percaya bahwa mempelajari cara berinvestasi di kedua platform media sosial ini bisa salah dan juga baik.
Read More : Ketua MPR: Hilirisasi Dongkrak Investasi pada Industri Pengolahan
“Tadi saya melakukan survei terhadap anak muda di Pluang. Kami bertanya dari mana mereka belajar tentang investasi.” Responsnya terutama datang dari TikTok dan Instagram,” ujarnya./2024).
Dikatakannya, saat ini pengguna program Pluang adalah kalangan muda hingga usia 22 tahun. “Anak muda kini belajar cara berinvestasi dari Instagram dan TikTok.” Ini bisa menjadi hal yang buruk, bisa menjadi hal yang baik,” katanya.
Kladia melanjutkan, Instagram dan TikTok terlalu pendek dan tidak cukup untuk berinvestasi dalam literasi keuangan. “Kami melihat anak muda kecanduan konten jangka pendek, bahkan ketika mereka seharusnya membaca atau menonton video panjang seperti di YouTube.”
Sementara itu, Chief Digital Officer BNI Corina Leyla mengatakan, keempat faktor literasi investasi tersebut akan disampaikan kepada nasabah BNI. Yaitu tujuan investasi, toleransi risiko investasi, arus kas dan produk investasi.
Read More : Harga Emas Naik Tipis di Tengah Penantian Data Ekonomi AS
“Keajaiban BNI adalah dalam program BNI kami memberikan profil risiko kepada nasabah. Kami memberikan literasi kepada nasabah untuk melihat imbal hasil yang dialokasikan untuk tabungan dan investasi. Data historis memungkinkan nasabah mengetahui arus kasnya.” “Pada akhirnya, potensi ilmu yang dipelajari berupa produk yang diminati pelanggan,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Edukasi Keuangan Badan Jasa Keuangan (OJK) Halimatus Sa’diya mengatakan, pihaknya akan mendorong literasi keuangan melalui edukasi. “Tantangan dari kondisi geografis Indonesia yang besar dan beragam adalah pendidikan tidak bisa dilakukan secara online. Kami juga membangun infrastruktur untuk mengakses Internet sebagai alat pembelajaran. Kami meningkatkan jumlah pekerja literasi dan pekerja desa yang belajar dari masyarakat pedesaan Bisa guru yang mengajarkan literasi keuangan kepada siswa, ini komunitas pelajar dan juga bisa digunakan untuk mengedukasi tetangga,” ujarnya.