Jakarta, Beritasatu.com – CEO JPMorgan Chase Jamie Dimon memaparkan sejumlah tantangan yang akan mengancam prospek perekonomian global ke depan, yakni inflasi, perang, dan kebijakan Federal Reserve (The Fed).
Read More : Peluang Investasi Swasta pada Sektor Transportasi Capai Rp 2.166 T
โMeski banyak indikator ekonomi menunjukkan kemajuan, kami menyadari banyak faktor yang menyebabkan ketidakpastian di masa depan,โ kata Dimon, dilansir CNBC International, Sabtu (13/4/2024).
Menurut Damon, lanskap global yang bergejolak, termasuk perang dan kekerasan, merupakan faktor yang berkontribusi terhadap ketidakpastian baik dalam bisnis JPMorgan maupun perekonomian secara keseluruhan.
Hal ini juga menyoroti tekanan moneter yang mungkin berlanjut, serta berbagai kebijakan The Fed dalam menghapus asetnya. Secara kolektif, Dimon mengatakan ketiga permasalahan tersebut menimbulkan banyak ketidakpastian di masa depan.
โKami tidak tahu bagaimana hal ini akan terjadi tetapi kami harus mempersiapkan perusahaan untuk menghadapi banyak peluang,โ katanya.
Read More : IISF 2024: KEM dan Amartha Inisiatif Bioekonomi melalui Perhutanan Sosial
Komentar Dimon muncul di tengah kekhawatiran baru terhadap inflasi. Meskipun laju kenaikan suku bunga telah melambat dari puncaknya pada Juni 2022, data tahun 2024 menunjukkan inflasi berada di atas ekspektasi dan jauh di atas target tahunan The Fed sebesar 2%.
Akibatnya, pasar mengubah ekspektasi mereka terhadap penurunan suku bunga. Meskipun pada awal tahun pasar memperkirakan tujuh kali penurunan suku bunga, atau sekitar 1,75 poin persentase, ekspektasi saat ini adalah satu atau dua kali penurunan suku bunga dengan total paling banyak setengah poin persentase.