Jakarta, Beritasatu.com – Inflasi dan kenaikan harga mungkin menyebabkan banyak masyarakat mampu mengurangi pengeluaran pangan. Oleh karena itu diperlukan produk yang berkualitas dengan harga yang terjangkau.
Read More : Thomas Djiwandono: Penguatan Tata Kelola Keuangan Ciptakan Ekonomi Berkelanjutan di ASEAN
โInflasi dan kenaikan harga pangan berdampak pada seluruh lapisan masyarakat, terutama keluarga berpenghasilan rendah,โ kata peneliti Lembaga Penelitian Ekonomi dan Masyarakat (LPEM FEB UI), Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia ini. . Sulistiadi Dono Iskandar dalam keterangan resminya, Sabtu (19/5/2024).
Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) menunjukkan bahwa semakin rendah pendapatan per kapita maka semakin rendah pula pengeluaran untuk makanan bergizi. โHal ini menyebabkan anak berisiko mengalami stunting akibat kekurangan gizi zat besi,โ jelasnya.
Ia menambahkan, terdapat hubungan erat antara status ekonomi keluarga dengan status gizi anak. Idealnya, anak diberi makanan bergizi lengkap. Sayangnya, karena kondisi perekonomian yang rendah, pangan sehari-hari masih menjadi beban, ujarnya.
Teuku Riefky, Peneliti LPEM FEB UI lainnya, mengatakan inflasi cenderung meningkat pada Januari-Maret 2024, namun akan turun hingga 3% pada April 2024. Hal ini berdampak positif terhadap daya beli masyarakat.
Read More : Menkominfo Sebut Elon Musk Akan Bertemu Jokowi di Bali
Ahli Gizi Dr. Dr. Luciana Budiati Sutanto, MS, Sp.GK mengatakan, anak-anak Indonesia masih mempunyai masalah kesehatan utama seperti anemia.
Padahal, pada 5 tahun pertama kehidupan, makanan dan minuman bergizi lengkap seperti karbohidrat, protein hewani dan nabati, sayur mayur, buah-buahan, dan zat besi sebaiknya dikonsumsi.