Jakarta, Beritasatu.com – Kebijakan impor beras yang dilakukan pemerintah kini dinilai efektif menjaga stabilitas harga pangan dan kesejahteraan petani. Sekretaris Jenderal Persatuan Kerukunan Petani Indonesia (HKTI) Sadar Subagio mengatakan kebijakan impor hanya akan berdampak pada inflasi jika diterapkan saat produksi beras dalam negeri sedang menurun.

Read More : Sopir Truk Pemicu Kecelakaan di Gerbang Tol Ciawi Diperiksa di Polresta Bogor Sore Ini

“Kebijakan impor beras ini terbukti efektif. Dengan adanya impor, harga gabah di tingkat petani tetap lebih tinggi dibandingkan harga pokok produksi (BPK),” kata Sadar dalam keterangannya, Rabu (10/02/2024).

Sadar mengatakan, kebijakan impor beras yang dilakukan pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) telah memperhatikan kesejahteraan petani. Bapanas mendirikan HES untuk gabah dinilai membantu petani karena perhitungannya didasarkan pada biaya produksi riil dan keuntungan yang adil.

“Regulasi PLTA yang diperkenalkan Bapanas sangat mendukung petani. Perhitungan HPS memperhitungkan biaya produksi riil dan keuntungan yang wajar bagi petani,” ujarnya.

Terkait upaya pemerintah menjaga keseimbangan impor beras dan swasembada pangan nasional, Sadar mengatakan keseimbangan komoditas beras kini sudah baik.

Hal ini memungkinkan pemerintah menentukan waktu yang tepat untuk melakukan impor sehingga kebijakan tersebut dapat menjaga keseimbangan pasokan dan harga tanpa mengganggu swasembada dan kesejahteraan petani.

“Kondisi neraca komoditas beras saat ini sangat baik sehingga bisa diprediksi kapan tepatnya akan melakukan impor,” imbuhnya.

Read More : MK Diskualifikasi Ade Sugianto dari Pilkada Tasikmalaya 2024

Selain itu, Ketua Umum Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras Indonesia (Perpadi) Sutarto Alimoeso menyatakan, kebijakan impor beras bukan untuk tujuan komersial, melainkan karena pangan dalam negeri tidak memenuhi kebutuhan masyarakat. 

“Impor beras tidak menyebabkan inflasi, tujuan impor ini untuk menjamin ketersediaan pangan dan stabilisasi harga melalui program SPHP, ketika beras dijual di bawah harga pasar,” jelasnya.

Sutarto juga berpesan agar beras impor tidak dibuang ke pasar saat musim panen, agar pasar diisi terlebih dahulu dengan beras produksi dalam negeri. Harapannya pasar akan dipenuhi beras lokal jika beras impor tidak habis saat musim panen,” imbuhnya.

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *