Ponorogo, Beritasatu.com – Rombongan Haji (klotter) Ebarkation ke-19 Surabaya, Jawa Timur, tiba di Ponorogo pada Kamis (27/06/2024) malam. Kelompok ini termasuk haji tertua di Indonesia, Hardjo Mislan, yang berusia 109 tahun.
Read More : Liverpool vs Wolverhampton 2-1: The Reds Perlebar Jarak di Puncak Klasemen
Peziarah asal Desa Bećir, Kecamatan Sambit, Kabupaten Ponorogo ini berangkat bersama rekannya, putranya Sirmat (66). Mereka meninggalkan Ponorog bersama 620 jamaah lainnya pada 15 Mei.
Sesampainya di Ponorogo, Harjo yang turun dari bus ke-6 bersama anak-anaknya langsung disambut haru oleh keluarganya. Wajahnya tidak terlihat lelah. Nyatanya, Harjo masih bisa berjalan hingga manusianya membawakannya kursi roda.
Menjadi jemaah haji tertua, tak heran jika Harjo langsung disambut oleh jemaah haji lainnya. Mereka pun langsung bergantian mencium tangan Haryo, berharap mendapat keberkahan hidup dan bisa mengabdi seperti Haryo.
Bahkan kulo satus, pun tuvo (udah 100, udah tua),” kata Harjo.
Saat ditanya kondisinya selama menunaikan ibadah haji, Harjo menjawab badannya sedang demam. Meski merasakan sakit, Haryo mengaku hal itu wajar.
“Penyakit Lak niku Mavon (satu-satunya penyakit),” kata Harjo.
Sementara itu, Sirmat, putra Harja menceritakan, ayahnya batuk dua hari menjelang akhir ibadah haji. Meski begitu, sang ayah tetap bisa menunaikan ibadahnya di Madinah dengan sempurna.
Read More : Ini Profil Alan Walker yang Mengunjungi Sekolah di Medan
Alhamdulillah bapak dalam keadaan sehat selama menunaikan ibadah haji, baru belakangan ini beliau mengalami batuk selama dua hari, kata Sirmat.
Ia ingat, di Madinah ia sering pergi ke masjid bersama ayahnya karena letaknya dekat dengan tempat penginapan. Namun sesampainya di Mekkah, ia hanya beberapa kali pergi ke masjid tersebut karena letaknya yang jauh.
Kita bisa menunaikan ibadah keagamaan, baik yang wajib maupun sunnah,” tambah Sirmat.
Bahkan selama mengabdi, ayahnya cukup kuat untuk berjalan tanpa kursi roda, hanya mengandalkan bantuan dan tongkat. Namun ayahnya terpaksa menggunakan kursi roda untuk salat Tawaf karena harus berjalan kaki sejauh 10 kilometer mengelilingi Ka’bah.
Data Kementerian Agama menunjukkan 620 jemaah haji akan meninggalkan Ponorog pada 2024. Sebanyak dua jemaah meninggal dunia dan jemaah kedua belum bisa pulang karena masih menjalani perawatan.