Surabaya, Beritasatu.com- Dari tengah jatuh untuk merayakan Hari Ibu yang dirayakan setiap 22, ada cerita dari Misdiah yang menggambarkan cinta dan perjuangan seorang ibu. Misdiah adalah ibu yang tangguh dari Surabaya, Jawa Timur, yang telah bertahan selama lebih dari 30 tahun sebagai pembersih untuk keluarganya.

Read More : Bengkel Siaga Ford RMA Indonesia Hadir di Sumatera, Jawa, dan Bali

Tinggal di gubuk kecil di Jalan Semolowaru Slalan, Surabaya, hidup Misdiah kehidupan sederhana sebagai janda dan tulang punggung keluarga. Setiap hari dia memulai perjalanannya pada pukul 06.00 WIB dan mengubah langkah -langkah untuk menemukan sampah ke 15.00 WIB.

Meskipun pendapatan hanya sekitar RP. 15.000 hingga RP. 20.000 sehari antusiasmenya tidak pernah ditarik. Bahkan, ketika matanya mengalami percikan pembersihan lantai cairan yang menyebabkan fungsi syndsis, ia terus bekerja secara terus -menerus dan terus menumbuhkan cita -citanya untuk memenuhi ziarah ke Tanah Suci.

“Saya tidak ingin mengganggu anak dan putra saya -dalam gangguan mata. Saya masih bekerja sebagai pemindai,” kata Misdiah pada hari Sabtu (12/21/2024).

Santi, seorang anak yang salah, sekarang berusia 27 tahun, menyatakan kebanggaannya pada ibunya. Meskipun dia sering meminta ibunya untuk berhenti bekerja sebagai pemindai, pertunjukan yang salah sering menolak.

Read More : SYL Ungkap Hubungannya dengan Penyanyi Nayunda Nabila

“Terlepas dari seorang ibu seperti dia, saya telah menyuruh ibu untuk berhenti bekerja untuk menemukan sampah, tetapi sang ibu masih bersikeras bekerja sebagai pemulung,” kata Santi.

Selama perayaan Hari Ibu, kisah Misdiah adalah cerminan seberapa besar korban seorang ibu dalam keluarga. Dalam semua pembatasannya, dia masih bertarung tanpa keluhan.

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *