Sumenep, Beritasatu.com – Harga garam di tingkat petani di Pulau Madura mengalami penurunan signifikan pada akhir April lalu. Hal ini berasal dari besarnya cadangan garam petani hasil produksi tahun 2023.

Read More : Jokowi Siap Lakukan Groundbreaking Kembali di IKN

“Iya turun banget, bulan itu tahun 2023, harga garam waktu itu 4.000 euro per kilo, jauh dari harga sekarang. Kita semakin prihatin karena pemerintah juga akan mengimpor garam sebanyak 3,4 juta ton pada tahun 2024. Sebentar lagi, “harga garam akan turun,” jelas Ketua Konferensi Petani Garam (FKGM), Ubaid, kepada Beritasatu. com, pada hari Selasa (). 30/4/2024).

Menurut Ubaid, penurunan harga garam yang terjadi saat ini menambah kelangkaan perusahaan pembeli garam di Pulau Madura.

“Harga garam turun, jualan di sini juga susah. Mau tidak mau harus kirim ke Pulau Jawa. Harganya lebih bagus, tapi ya masih ada tambahan ongkos kirim. Kalau mengandalkan perusahaan pemerintah yang ingin membeli PT Garam Persero juga akan memiliki stok yang terbatas,” kata Ubaid.

Petani garam lainnya, Simsuri, mengatakan selama puluhan tahun arus jual beli garam di Pulau Madura dinilai tidak sehat. Sebab, PT Garam Persero tidak dapat menunaikan tanggung jawabnya, sebagai perusahaan negara yang membidangi stabilisasi garam.

“Setiap panen garam, hanya sedikit petani yang menjualnya ke PT Garam Persero. Karena hasil dari ladang garamnya juga ada. Jadi mau dijual kemana, tentu ke gudang khusus di Gersik, Ciduarjo, Sorbia. Kirimkan ke pemerintah pusat,” kata Simsuri.

Read More : Dede Kurniawan, Teman Dekat Pegi Setiawan Diperiksa Polisi

Miftahul Arifin, mitra PT Garam Persero, mengatakan PT Garam Persero bukan satu-satunya yang menentukan harga garam di pasaran.

“Stok garam di gudang banyak dari panen tahun lalu. Ya, sebaiknya kita cek dulu kalau ada garam di dalamnya,” kata pengembang, Selasa (30/4/2024).

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *