Jakarta, Beritasatu.com – Harga emas ‘cerah’ pada perdagangan pekan pertama Senin (23/9/2024) pasca The Fed memangkas suku bunga pekan lalu, harga emas berada di titik tertinggi sepanjang masa (ATH).

Read More : Rial Iran Melemah dan Shekel Israel Menguat Pasca-Serangan Drone

Emas spot naik 0,2% menjadi 2,627.94 per ounce pada Selasa (24/9/2024), setelah mencapai rekor tertinggi $2,634 per ounce, menurut CNBC International.

Bart Melek, kepala strategi investasi di TD Securities, mengatakan pasar masih bereaksi terhadap penurunan suku bunga The Fed sebesar 50 basis poin (bps) pada pekan lalu.

โ€œThe Fed telah memberi isyarat bahwa mereka tidak khawatir terhadap inflasi dan akan berusaha memastikan bahwa tingkat pengangguran di AS tidak menjadi masalah,โ€ ujarnya.

Dia menambahkan, jika tingkat pengangguran turun secara signifikan, pasar bisa mengharapkan The Fed bekerja lebih keras dalam memangkas suku bunga, yang dinilai sangat baik untuk harga emas.

Selain itu, situasi ketidakstabilan di Timur Tengah dapat semakin meningkatkan harga emas.

Read More : Vale Indonesia Targetkan Net Zero Emission pada 2050

Emas adalah aset yang aman di tengah gejolak geopolitik dan ekonomi, dan saat ini berada pada kondisi terbaiknya dalam 14 tahun terakhir.

Dana yang Diperdagangkan di Bursa Emas Global (ETF) mencatat arus masuk bersih sebesar 3 metrik ton minggu lalu, kata Dewan Emas Dunia.

Harga logam mulia lainnya lemah, dengan perak turun 0,5% menjadi $30,97 per ounce, platinum turun 1,1% menjadi $966,55, dan paladium – turun 1,7% menjadi 1.049,25 USD.

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *