Jakarta, Beritasatu.com – Kenaikan harga beras pada Juli hingga Agustus membuat warga khawatir. Bahkan, Hudori, pengamat pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), memperkirakan harga beras masih akan tinggi pada September mendatang.

Read More : Jelang Lawan Australia, Ini Deretan Pemain Termuda di Timnas Indonesia

โ€œBulan depan adalah September. Saya rasa dia masih punya peluang untuk naik,โ€ kata Hudori kepada Beritasatu.com. Pada hari Senin 8/12/2024

Kudori sebelumnya mengatakan bahwa perkembangan harga beras belakangan ini bersifat bias. Dia mengatakan, harga beras bulan Juli lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya.

Menurut Huroni, harga gerabah tersebut Rp 7.500 di NTT saja. Dan harganya akan berlipat ganda jika dikonversi menjadi beras. Artinya, lebih tinggi dibandingkan harga eceran (HET) beras premium.

Menurut Khudori, kenaikan harga beras didorong oleh hukum penawaran dan permintaan. Ia mengatakan, produksi tahun ini lebih sedikit dibandingkan tahun lalu.

Jika dihitung produksi Januari-September tahun ini, volume produksinya sebesar 24,37 juta ton, turun 1,8 juta ton dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Read More : Wamenkeu: Kami Tak Memotong Anggaran Green Ekonomi

โ€œPada Januari hingga September terjadi surplus beras sebesar 1,222 juta ton. Ini juga lebih rendah dibandingkan surplus yang sama pada periode yang sama tahun lalu. Itu sekitar 2 juta ton,โ€ kata Kudori.

Khudori menyarankan pemerintah daerah bekerja sama dengan Bulog untuk memastikan operasi pasar SPHP menstabilkan pasokan dan harga pangan.

Jika harga pangan menjauh dari HET, Hudori mengatakan sebaiknya Pemkab meminta Bulog melakukan pasar besar-besaran agar harga beras tidak terlalu tinggi.

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *