Surabaya, Beritasatu.com – Diskusi menarik seputar isu-isu utama seputar perekonomian nasional dan global kembali digelar di BNI Investor Daily Round Table, Kamis (5/12/2024). Didukung oleh BNI Today, Investor Daily Round Table hadir dengan diskusi menarik bertema “Membangun masa depan perekonomian Jawa Timur melalui investasi”.

Read More : Cerita Sukses Pelaku Usaha Berkembang Bersama Rumah BUMN Binaan BRI

BNI Investor Daily Roundtable dipandu oleh CEO B-Universe Enggartiasto Lukita. Dalam forum ini, BNI Investor Daily Roundtable menyampaikan kepada Wakil Gubernur Jawa Timur periode 2019-2024, Emil Dardak.

Dalam forum tersebut, Emil Dardak menunjukkan bagaimana Jawa Timur dapat mempromosikan potensi daerah dengan menjadikan Jawa Timur sebagai salah satu penyumbang perekonomian terbesar di Indonesia. Dengan kontribusi sekitar 14% terhadap produk domestik bruto (PDB), kawasan tersebut juga menjadi stimulus perekonomian di Pulau Jawa.

Melihat data Badan Pusat Statistik (BPS), Jawa Timur merupakan penyumbang perekonomian terbesar kedua di Pulau Jawa dengan kontribusi sebesar 25,55% pada triwulan III tahun 2024. Jawa Timur tertinggal dari Jakarta dengan 29,08%, sedangkan Jawa Barat berada di urutan kedua. penyumbang terbesar ketiga dengan 22,39%.

BPS juga menyatakan perekonomian Jatim pada triwulan III 2024 diperkirakan tumbuh 4,91 persen secara tahunan (year to year/yoy) atau 1,72 persen per triwulan (quarter to quarter/qtq).

Beberapa sektor utama di Jawa Timur meliputi pertanian, kehutanan, dan perikanan di pinggiran kota, dengan fokus pada produksi beras, tebu, dan perikanan. Sedangkan industri pengolahan mencakup struktur perekonomian Jawa Timur pada triwulan III tahun 2024 dengan kontribusi sebesar 30,54%.

Emil Dardak mengatakan, ke depan, pemerintah Jatim perlu terus mengoptimalkan potensi Jatim agar pertumbuhan ekonomi terus tumbuh. Harapannya, Jawa Timur dapat berkontribusi signifikan terhadap misi Presiden RI Prabowo Subianto untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8%.

Menurut Emil, berbagai strategi perlu dilakukan Pemda Jatim untuk memaksimalkan potensi perekonomian daerah. Ia mengatakan salah satu hal yang perlu dilakukan adalah mengoptimalkan konektivitas yang merupakan faktor penting dalam perekonomian.

“Tentu saja letak pelabuhan Tanjung Perak sangat penting dalam menunjang keterhubungan, namun di Jawa Timur hal ini juga didukung dengan keberadaan pelabuhan di Probolinggo. Kemudian beroperasinya pelabuhan tangkap di wilayah tersebut. Selatannya ada, pelabuhan Prigi yang bisa terintegrasi dengan pelabuhan selatan,” seperti Cilacap, Tanjung Wangi juga di Selamat. “Ini yang kita harapkan bisa membuat Jawa Timur semakin terkoneksi dengan target pertumbuhan 8%.”

Emil juga menambahkan, masa depan perekonomian Jatim tidak lepas dari Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Ia mengatakan, pemerintah harus mengefektifkan fungsi KEK di Jatim agar lebih menarik bagi investasi di ketiga wilayah tersebut.

Saat ini terdapat tiga kawasan ekonomi khusus di Jawa Timur. Pertama, KEK Singhasari di Malang yang fokus pada pengembangan ekonomi digital. Kedua, proyek KEK Gresik yang fokus pada industri nikel dan baja, elektronik, petrokimia, dan energi. Ketiga, KEK Sidoarjo yang fokus pada industri halal.

Dalam forum tersebut, Emil juga memaparkan realisasi investasi yang dicapai Provinsi Jawa Timur. Pada triwulan III tahun 2024, investasi di Jatim mencapai Rp 39,69 triliun. Dari angka tersebut, capaian Penanaman Modal Asing (FDI) sebesar Rp 13,88 triliun dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) mencapai Rp 25,81 triliun. 

Read More : 5 Prioritas Utama RAPBN 2025, Paling Banyak untuk Pendidikan Rp 722 Triliun

Angka tersebut mewakili peningkatan sebesar 2% secara tahunan (year-on-year) dan 11,6% quarter-on-quarter (Q to Q). Pencapaiannya pada Januari hingga September 2024 mencapai Rp 111,4 triliun

“Kami berharap dapat melihat lebih banyak temuan regulasi yang dapat meningkatkan minat investor asing untuk berinvestasi di sini dan menjual produknya tidak hanya untuk pasar domestik tetapi juga untuk pasar ASEAN,” jelasnya. Emil.

Berbicara mengenai masa depan perekonomian Jatim, Emil mengatakan Jatim menghadapi tantangan dalam penyerapan lapangan kerja. Untuk itu, menurutnya, pendidikan harus ditingkatkan dengan membuka industri-industri yang banyak diminati oleh industri. Hal ini dimaksudkan agar lebih banyak tenaga kerja yang terserap.

Sementara itu, Chief Executive Officer B-Universe Enggartiasto Lukita mengakui perekonomian Jawa Timur memiliki potensi yang besar. Ia lantas memuji kinerja Khofifah Indar Parawansa dan Emil Dardak yang membuat perekonomian Jawa Timur semakin bergairah selama lima tahun terakhir. Menurutnya, Pemerintah Jatim telah menyusun kebijakan yang baik bagi investor asing lokal, bahkan UKM.

“Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi yang berkeadilan dan kesejahteraan akan sejalan dengan tujuan yang telah ditetapkan oleh Presiden Prabowo. Hal ini akan semakin sering dilakukan oleh para wakil gubernur dan gubernur provinsi terpilih, karena hal ini berarti mengikuti kebijakan. “Investasi teknologi tinggi adalah tentang kesediaan pekerja untuk memenuhi syarat pekerjaan. Berikutnya adalah masalah izin,” kata mereka.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala dan Mitra Wholesale Operations BNI Gede Widya Anantayoga menyampaikan bahwa BNI Investor Daily Round Table merupakan wadah penting bagi masyarakat Jawa Timur untuk berpartisipasi, termasuk nasabah BNI yang banyak berbisnis di Jawa Timur. .

Yoga berharap, BNI Investor Daily Roundtable dapat memberikan akses kepada badan usaha di Jawa Timur agar dapat mengembangkan dan memperluas usahanya sejalan dengan kebijakan yang akan diterapkan pemerintah. 

 “Potensi di Jawa Timur sangat besar. Ini merupakan pusat komersial di Indonesia Timur. Klien-klien BNI yang bergerak di industri FMCG, perdagangan dan industri juga banyak di sana. Saya tahu apa strategi pemerintah ke depan.”

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *