Jakarta, Beritasatu.com – Meta Platform menyebutkan kelompok peretas Iran diduga menyerang akun WhatsApp staf Presiden AS Joe Biden dan staf mantan Presiden AS Donald Trump.

Read More : Kembangkan Kasus Amarta Karya, KPK Tahan 2 Tersangka

Berdasarkan LBC, Sabtu (24/8/2024), Meta mengklaim telah menemukan jaringan peretas yang menyamar sebagai dukungan teknis untuk perusahaan seperti AOL, Microsoft, Yahoo dan Google. Hal ini diketahui setelah beberapa orang menerima pesan WhatsApp yang mencurigakan dan melaporkannya.

Investigasi Meta mengungkapkan bahwa aktivitas tersebut terkait dengan seorang peretas Iran yang bertanggung jawab atas laporan insiden peretasan dalam kampanye Donald Trump.

FBI mengatakan peretasan yang dilakukan Iran terhadap kampanye Trump dan upaya peretasan kampanye Biden-Harris adalah bagian dari upaya Iran yang lebih luas untuk ikut campur dalam pemilihan presiden AS.

Meta mengatakan para peretas mencoba menargetkan akun WhatsApp individu di Timur Tengah, AS, dan Inggris, serta pejabat politik dan diplomatik, termasuk pejabat tak dikenal yang terkait dengan pemerintahan Trump dan Biden.

“Kami tidak melihat bukti bahwa akun WhatsApp yang ditargetkan telah disusupi, namun demi kehati-hatian, kami membagikan temuan kami kepada publik, selain berbagi data dengan penegak hukum dan mitra industri kami,” kata Meta dalam sebuah pernyataan. penyataan. . .

Google mengatakan dalam sebuah laporan bahwa kelompok Iran yang terkait dengan Garda Revolusi mencoba menyusup ke akun email pribadi puluhan orang yang terkait dengan Joe Biden dan Donald Trump sejak Mei.

Read More : Jenderal Pemimpin Kudeta Gagal di Bolivia Dikirim ke Penjara Superketat

Laporan tersebut merupakan perluasan dari studi terpisah yang dirilis oleh Microsoft beberapa hari sebelumnya yang mengungkap dugaan proliferasi dunia maya di Iran pada pemilihan presiden AS tahun 2024.

Para pejabat intelijen AS mengatakan semakin agresifnya penggunaan serangan siber dan disinformasi oleh Iran memiliki banyak motif, termasuk membingungkan dan mempolarisasi pemilih, melemahkan kepercayaan terhadap demokrasi Amerika, mengurangi dukungan terhadap Israel dan menentang kandidat yang diyakini akan meningkatkan ketegangan antara Washington dan Iran.

Diketahui, Iran berjanji akan membalas Trump yang memutuskan perjanjian nuklir dengan negara Timur Tengah tersebut. Selain itu, Trump menerapkan kembali sanksi dan memerintahkan pembunuhan Jenderal Iran Qassem Soleimani.

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *