Jakarta, Beritasatu.com – Ansar Muhammad Arif Rohman Ketua Gerakan Pemuda (GP) Otoritas Keuangan dan Pajak Menekankan kebijakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) 12 persen yang disetujui pemerintah. keputusan akhir perselisihan yang berkepanjangan Apalagi dari berbagai pihak Mengusulkan dan mendukung perselisihan justru merugikan stabilitas perekonomian.

Read More : Jadi Menteri Pengganti Satryo, Kekayaan Prof Brian Yuliarto Capai Rp 18,64 Miliar

“PPN 12 persen ini bukan kebijakan mendadak. Tapi itu adalah proses yang panjang dan legal. Kita semua, termasuk partai politik yang awalnya mengusulkan kebijakan ini, Harus terus mendukung kebijakan ini. “Jangan sampai persoalan ini menjadi politis demi kepentingan tertentu,” kata Arif dalam keterangannya, Selasa (24/12/2014).

Dalam perdebatan APBN, Arif menegaskan pilihan konstitusional Pasal 7 ayat (4) Peraturan Perpajakan. yang tidak disetujuinya.   Kini, lanjut Arif, saatnya membahas APBN, mengingat ini yang terakhir. Toleransi ekonomi harus ditekankan. Dan perhatian harus diberikan pada efektivitas penerapannya.

Pemerintah harus memastikan bahwa penerapan PPN 12 persen dilakukan secara adil, dengan fokus pada penerimaan ekonomi. “Hasil dari kebijakan ini harus benar-benar dimanfaatkan untuk kemaslahatan rakyat, seperti penguatan program jaminan sosial. Meningkatkan kualitas pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur bangunan,” kata Arif  

GP Ansar juga mengkritisi sikap sejumlah parpol yang mengangkat isu PPN 12 persen sebagai topik kontroversial. Arif menilai hal ini mencerminkan ketidakpuasan partai politik dalam melindungi kepentingan rakyat.

Partai politik yang menjadi sponsor utama kebijakan ini mempunyai tanggung jawab moral untuk mendukung implementasinya. “Mengkritik kebijakan yang diambil hanya akan mengikis kepercayaan masyarakat terhadap integritasnya,” kata Arif.

Read More : BI: Surplus Perdagangan April 2025 Perkuat Ketahanan Eksternal Ekonomi

GP Ansar meyakini PPN sebesar 12 persen yang dihasilkan akan meningkatkan penerimaan negara untuk berinvestasi pada proyek pembangunan.

Politisi Partai Gerindra, Partai Nasdem, dan Partai Amanat Nasional (PAN) diketahui menyoroti inkonsistensi PDI Perjuangan terkait PPN 12 persen. Partai pimpinan Megawati Sokarnabutri itu menolak kebijakan PPN 12 persen Parlemen, menilai kedua kubu tidak konsisten. Melempar batu diyakini berarti menyembunyikan tangan, kata Fauci Amro, Wakil Ketua Komisi 11 DPR dari Kelompok Nasdem.

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *