Lombok Tengah, Beritasatu.com – Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB) kembali menjadi tuan rumah Festival Begway Nysek. Acara tahunan yang menjadi ikon desa wisata ini menampilkan ratusan penenun menenun benang sepanjang 1 km di sepanjang jalan desa.

Read More : Sekolah SD di Kolaka Rusak Parah Tertimpa Longsor

Festival ini juga melestarikan budaya tenun Lombok Barat. Namun, dibalik antusiasme tersebut ada beberapa tantangan yang dihadapi panitia penyelenggara.

Pak Saman Budi, Kepala Desa Sukarara, mengungkapkan jumlah peserta tahun ini mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya saat rekor Muuri dipecahkan.

“Tahun ini kami hanya bisa mengundang 500 penenun karena keterbatasan anggaran,” kata Minggu (28/7/2024).

Selain keterbatasan anggaran, faktor alam juga mempengaruhi penyelenggaraan festival karena musim panen saat ini memaksa banyak warga desa untuk fokus pada kegiatan pertanian.

“Kami kesulitan mendapatkan ruang yang cukup untuk menampung seluruh peserta, namun kami menyelenggarakan program sesuai jadwal yang telah ditentukan untuk melestarikan warisan budaya ini,” kata Samman.

Read More : Anggota DPRD Lampung Tengah Jadi Tersangka Kasus Penembakan Warga hingga Tewas

Yuni, salah satu penenun muda yang ikut serta, mengungkapkan bahwa ia belajar menenun dari ibunya sejak kecil.

“Saya membuat kain tenun dengan desain ragi menap. Menenun sudah menjadi bagian keseharian kami di sini.”

Festival Begwe Naisek tidak hanya sekedar lomba tenun, namun juga merupakan program penguatan jati diri dan nilai budaya masyarakat Sukar. Namun tantangan yang dihadapi panitia penyelenggara menyoroti pentingnya kolaborasi pemerintah dan masyarakat untuk melestarikan warisan budaya ini.

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *