BOGOR, BERITASATU.COM – Kuluwung Fighting Festival adalah acara tradisional di dua kota, yaitu Vening Galih Village dan Sukagalih Village, Jonggol Oblast, Bogor Regency, Jawa Barat. 

Read More : Indonesia Open: Di Istora, Baek Ha Na/Lee So Hee Pertahankan Gelar Juara

Festival ini bukan hanya cara hiburan publik, tetapi juga tempat untuk persahabatan antara warga. Kuluwung, yang merupakan warisan budaya leluhur, berlangsung setiap tahun sebagai bagian dari makanan Idul Fitri untuk perayaan tersebut.

Kepala Vening Vening Galihamed Rahmata mengatakan bahwa ada sekitar 11 meriam kayu atau kulwung dari berbagai ukuran yang digunakan oleh para peserta selama dua hari festival tahun ini. 

Panjang kulwung terbesar adalah sekitar 11 meter dan diameter 3 meter, sedangkan panjang terendah adalah sekitar 2 meter dengan diameter 1 meter.

“Ukuran perubahan Kulwung secara signifikan dari panjang 11 meter dengan diameter 3 meter ke yang terkecil dengan panjang 2 meter dan berdiameter 1 meter. Vening Galih Village berada di 11 Kuluwung,” Muhammad Rahmat Beritatu.com menjelaskan pada hari Kamis (3/2025).

Rahmat juga menambahkan bahwa Kulwung Fight Festival adalah bagian dari komunitas Bogora setempat dari kebijaksanaan lokal, terutama di tiga daerah, yaitu Jonggol, Sukamakmur dan Tanjungsari. Acara ini adalah tradisi yang dibuat untuk merayakan Idulfiter.

“Festival ini adalah budaya lokal, terutama di Jonggol dan Bogora Timur. Kuluwung Adu adalah semacam kesepakatan antara dua kota untuk merayakan Idulfitri,” jelas Muhammad.

Read More : Prediksi Sevilla vs Barcelona: Kado Perpisahan Xavi Hernandez

Festival ini didukung oleh self -membantu masyarakat, baik di Vening Galih Village maupun di desa Sukagalih, setiap kota mempromosikan pembiayaan acara tersebut.

Selain hiburan, festival ini juga berfungsi sebagai persahabatan antara warga dan ini adalah budaya lokal yang ditransfer dari generasi ke generasi.

Kulwung Fighting Festival diadakan secara teratur setiap tahun, terutama di wilayah Bandle. Kegiatan ini selalu menjadi daya tarik komunitas lokal.

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *