Jakarta, Beritasatu.com – Lebih dari 2.000 orang di Papua Nugini diyakini tertimbun hidup-hidup akibat longsor pada Jumat (24/05/2024). Angka yang dikeluarkan oleh pemerintah Papua Nugini ini tiga kali lebih tinggi dari perkiraan PBB yang menyebutkan 670 orang tewas akibat tanah longsor di pegunungan di negara kepulauan Pasifik Selatan tersebut.

Read More : Menlu Tiongkok Temui Presiden Jokowi di Istana, Apa yang Dibahas?

Perkiraan jumlah korban sejak bencana sangat bervariasi. Tidak jelas bagaimana memperkirakan jumlah orang yang terkena dampak.

Melansir media AP, Selasa 28 Mei 2024, berikut fakta longsor di Papua Nugini.

Kapan tanah longsor terjadi?

Tanah longsor melanda kota Jambali di provinsi Enga, sekitar 600 kilometer barat laut ibu kota Port Moresby, pada Jumat pagi sekitar pukul 03.00 waktu setempat.

Jumlah korban

Pemerintah Papua Nugini mengatakan lebih dari 2.000 orang terkubur hidup-hidup. Namun Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) tidak mengubah perkiraan 670 orang tewas yang dipublikasikan pada Minggu (26/5/2024) sambil menunggu bukti baru.

670 orang tewas, menurut perhitungan yang dibuat oleh pejabat dari kota Jambali dan provinsi Enga, namun lebih dari 150 rumah terkubur akibat tanah longsor. 60 rumah sebelumnya dinilai.

Perdana Menteri Papua Nugini James Marape tidak menjelaskan dasar perkiraan pemerintah mengenai jumlah 2.000 orang. Marape berjanji akan merilis informasi mengenai tingkat kerusakan dan korban jiwa segera setelah tersedia.

Read More : Luna Maya dan Maxime Bouttier Sah Jadi Suami Istri

Kurangnya data sensus yang dapat diandalkan menambah tantangan dalam menentukan berapa banyak orang yang mungkin meninggal.

Pemerintah memperkirakan populasi Papua Nugini berjumlah sekitar 10 juta jiwa, meskipun penelitian PBB memperkirakan jumlah penduduknya bisa mencapai 17 juta jiwa pada tahun 2022. Tidak ada sensus penduduk yang dilakukan di negara tersebut selama beberapa dekade.

Dampak tanah longsor

Selain mengubur ribuan orang, tanah longsor juga mengubur jalan utama provinsi sepanjang 200 meter di bawah kedalaman 6 hingga 8 meter, sehingga menimbulkan hambatan besar bagi pekerja bantuan.

Sulit untuk memperkirakan besarnya bencana karena kondisi lapangan yang sulit, termasuk desa-desa terpencil, kurangnya telekomunikasi dan konflik etnis di seluruh provinsi.

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *