Jakarta, Beritasatu.com – Tahun 2024 akan menjadi tahun yang penuh dinamika di sektor perekonomian Indonesia. Berbagai kebijakan yang diterapkan pada tahun ini akan memberikan dampak signifikan tidak hanya terhadap kondisi perekonomian nasional dan masyarakat saat ini, namun juga dalam jangka panjang, termasuk tahun 2025.
Read More : AVC Challenge Cup 2024: Dendam Terbalaskan, Indonesia Hancurkan Hong Kong
Ekonom dan pakar kebijakan publik Ahmad Noor Hidayat merangkum sejumlah kebijakan ekonomi yang akan menarik perhatian masyarakat, pelaku usaha, dan dunia internasional selama tahun 2024.
Januari: Undang-Undang Harmonisasi Perpajakan (UU HPP) Pemerintah memulai tahun 2024 dengan mengesahkan UU HPP. Langkah tersebut bertujuan untuk menyederhanakan sistem perpajakan, meningkatkan efisiensi dan meningkatkan daya saing investasi.
Namun dampaknya terhadap kelas menengah akan mulai terasa pada tahun 2025 dengan beban pajak yang lebih terstruktur, namun tidak secara langsung meningkatkan daya beli, kata Ahmad dalam keterangannya, Selasa (31/12/2024).
Februari: Pengetatan Subsidi BBM Pemerintah mulai mengusulkan perubahan Mekanisme Subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM). Subsidi yang sebelumnya banyak diterapkan, akan diubah dan didasarkan pada Nomor Induk Kependudukan (NIK).
“Kebijakan tersebut bertujuan agar subsidi lebih tepat sasaran, namun pada tahun 2025 diperkirakan beban biaya transportasi akan meningkat bagi masyarakat kelas menengah yang tidak memenuhi kriteria subsidi,” kata Ahmad.
Maret: Perpanjangan Kontrak Freeport Pada bulan Maret, pemerintah memutuskan untuk memperpanjang kontrak PT Freeport Indonesia. Kontrak baru tersebut memuat komitmen pembangunan smelter dan peningkatan royalti yang dibayarkan kepada negara.
“Perpanjangan perjanjian ini dinilai strategis untuk menjaga stabilitas investasi asing di sektor pertambangan, meski mendapat kritik dari pihak-pihak yang menilai pengelolaan sumber daya alam masih belum optimal,” kata Ahmad dalam paparannya mengenai perekonomian Indonesia. tahun 2024.
April: Kebijakan ekspor pasir laut Pemerintah mencabut larangan ekspor pasir laut yang telah berlaku selama lebih dari dua dekade. Langkah tersebut dilakukan untuk mendongkrak devisa negara, namun juga menimbulkan kekhawatiran akan dampaknya terhadap lingkungan.
“Kebijakan ini mendapat perhatian luas dari para pemerhati lingkungan dan masyarakat pesisir yang menilai kebijakan tersebut dapat merugikan ekosistem laut,” kata Ahmad.
Mei: Tarif Pajak Barang Mewah dan PPN Pemerintah menaikkan tarif pajak barang mewah sebagai bagian dari upaya efisiensi perpajakan dan peningkatan pendapatan negara.
Selain itu, isu kenaikan pajak pertambahan nilai (PPN) dari 11% menjadi 12% pun mulai mengemuka.
“Dampak langsung dari kenaikan PPN pada akhir tahun 2024 akan dirasakan oleh masyarakat kelas menengah pada tahun 2025, ketika harga barang kebutuhan pokok dan barang konsumsi semakin mahal,” jelas Ahmad.
Juni: Fokus Investasi Ahmad menilai Juni adalah momen penting dengan kebijakan penurunan tarif pajak penghasilan (PPh) badan untuk menarik lebih banyak investasi asing.
Menurutnya, langkah tersebut diambil untuk mendukung pemulihan ekonomi pasca pandemi dan meningkatkan daya saing Indonesia di kancah dunia.
Juli: Program Starlink dan Food Estate Starlink, perusahaan satelit milik Elon Musk, resmi berinvestasi hingga 30 miliar rupiah di Indonesia. Investasi ini bertujuan untuk menyediakan akses internet berkecepatan tinggi ke daerah-daerah terpencil di Indonesia, sebuah langkah strategis untuk mendorong digitalisasi negara.
Read More : Produsen Mobil Jerman Khawatir Saat Warga China Mulai Cinta Produk Dalam Negeri
Pada bulan yang sama, pemerintah mencanangkan program food estate di Papua dengan tujuan membuka 2 juta hektar sawah dalam waktu lima tahun. Program tersebut dirancang untuk mendukung swasembada pangan nasional, jelasnya.
Agustus: Program Tapera Pemerintah memulai pelaksanaan Program Tabungan Perumahan Rakyat (TAPERA). Program ini mengharuskan masyarakat kelas menengah menyisihkan sebagian pendapatannya untuk perumahan.
Menurut Ahmad, kebijakan tersebut akan berdampak pada perekonomian masyarakat pada tahun 2025 karena akan menjadi beban keuangan tambahan di atas beban ekonomi lainnya.
September: Subsidi KRL dan pengetatan BBM September menunjukkan adanya perubahan skema subsidi KRL berdasarkan angka KTP. Kebijakan ini dilakukan agar subsidi lebih tepat sasaran.
Selain itu, pembatasan distribusi Pertalite juga berlaku di mana hanya pengguna terdaftar tertentu yang diperbolehkan membeli bahan bakar bersubsidi.
Oktober: Kebangkrutan Mobil Mong dan Shritex Pada bulan Oktober, pemerintah mulai menggunakan Mobil Mong produksi PT Pindad sebagai kendaraan dinas pejabat. Langkah ini untuk mendukung industri dalam negeri.
Namun di sisi lain, ada kabar buruk dari industri tekstil. Shritex, salah satu perusahaan tekstil terbesar di Indonesia, dinyatakan bangkrut dan berpotensi menyebabkan PHK massal terhadap ribuan pekerjanya.
November: Penetapan upah, PPN 12% dan gratis makanan lengkap. Ahmed menilai November adalah bulan yang penuh dengan politisi penting. Untuk menjamin keamanan yang lebih baik bagi pekerja, pemerintah memperkenalkan sistem pengupahan baru berdasarkan kebutuhan hidup yang layak.
Selain itu, tantangan terbesar bagi perekonomian Indonesia pada tahun 2024 adalah menaikkan tarif PPN menjadi 12%. Hal ini akan berdampak langsung pada daya beli masyarakat kelas menengah pada tahun 2025 dengan kenaikan harga kebutuhan pokok.
Pemerintah juga mencanangkan program Makan Umum Gratis (MBG) dengan alokasi Rp10.000 per anak untuk siswa SD, yang dampaknya lebih banyak dirasakan pada kelas bawah dibandingkan kelas menengah.
Desember: Anggaran 2025 dan transisi pemerintahan Pada bulan Desember, anggaran 2025 sebesar 3.621,3 triliun rupiah disahkan dengan defisit 2,53% PDB. Anggaran ini memprioritaskan belanja infrastruktur, pendidikan, dan transisi pemerintahan. Langkah ini melengkapi tahun yang penuh dinamisme di sektor perekonomian.
“Tahun 2025 akan menjadi ujian seberapa baik pemerintah mengatasi dampak kebijakan tersebut dan menjaga stabilitas perekonomian nasional,” pungkas Ahmad menjelaskan perekonomian Indonesia hingga tahun 2024.