Jakarta, Beritasatu.com – Ekonom dan analis Indonesia memperkirakan tahun 2025 akan menjadi masa yang penuh tantangan. Hal ini disebabkan oleh kemenangan Donald Trump pada pemilihan presiden Amerika Serikat (AS) tahun 2024 yang menimbulkan kekhawatiran akan kebijakan ekonomi proteksionisnya terhadap perekonomian AS.
Read More : 8 Fakta Sabina Altynbekova, Pevoli Tercantik di Dunia Bintang Baru Klub Proliga Yogya Falcons
Meski jarak geografis Indonesia dan AS cukup jauh, namun dampak kebijakan tersebut sangat terasa di Indonesia. Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Trioksa Siahaan mengatakan, kebijakan perekonomian AS sangat erat kaitannya. terhadap situasi perekonomian Indonesia. Salah satu kekhawatirannya adalah perlambatan suku bunga AS tahun ini.
Kemenangan Trump juga akan berdampak pada perekonomian. Indonesia harus mengantisipasi hal tersebut, terutama dari sisi perbankan. Siapkah kita menghadapi era tingginya suku bunga atau biaya pembiayaan? -Beritasatu.com, Jumat (1/3/2025).
Trioxa menegaskan, lembaga keuangan di Indonesia harus bersiap menghadapi ketidakpastian global pada tahun 2025 agar dapat bertahan dari gejolak perekonomian.
“Siap atau tidak, kita harus siap. Ini adalah kebijakan global yang berada di luar kendali kita. Kita perlu beradaptasi dengan kondisi ini. Apa yang bisa dilakukan? Kita perlu meningkatkan efisiensi operasional. Jika penurunan suku bunga tidak memenuhi ekspektasi internal bank, maka efisiensi menjadi kuncinya. “Sehingga suku bunga yang dibebankan kepada masyarakat tidak terlalu tinggi, dan bank tetap bisa melakukan ekspansi meski terbatas,” ujarnya.
Trioxa juga menekankan pentingnya menjaga kualitas kredit dalam perluasan sektor keuangan dan kehati-hatian dalam penyaluran pinjaman dalam kondisi gejolak perekonomian.
Trioxa meyakini ketika perekonomian global mengalami ketidakpastian, pemerintah dapat berperan penting dalam memitigasi dampaknya dengan melonggarkan peraturan.
Read More : Cari Tahu Warteg dengan Pilihan Menu Vegan Hanya di Kuyliner BTV Sore Ini
“Regulasi penting untuk menyehatkan industri. Namun, regulasi yang terlalu ketat dapat mengancam ekspansi perbankan. Bank kita sangat patuh terhadap regulasi, baik dari segi permodalan maupun likuiditas. Namun tren saat ini menunjukkan likuiditas mulai menurun. “Terlebih lagi, adanya solvabilitas utang pemerintah sekitar Rp 800 triliun pada tahun ini akan menjadi tantangan besar dalam perebutan likuiditas antara pemerintah dan perbankan,” kata Trioxa.
Dia menyarankan pemerintah mempertimbangkan peraturan yang lebih longgar dengan tetap memperhatikan likuiditas dan manajemen risiko permodalan.
“Keringanan ini diperlukan untuk memberikan ruang lebih bagi perbankan untuk tetap mampu menopang perekonomian Indonesia di tengah kondisi global yang tidak menentu,” tutupnya.