JAKARTA, Beritasatu.com – Ekonom Senior Core Indonesia Hendri Sparini mengungkap penyebab menurunnya kelas menengah di Indonesia. Salah satunya adalah industri konstruksi yang telah melihat teknologi tersebut sejak tahun 2007.
Read More : Harga Minyak AS Hentikan Penurunan Mingguan 3 Kali Beruntun karena Ketatnya Pasokan
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), populasi kelas menengah di Indonesia semakin berkurang setiap tahunnya. Mulai tahun 2019, rasio ini akan berlanjut dari 21,45% atau 57,33 juta orang menjadi 17,3% atau 47,85 orang pada tahun 2024.
Artinya, pangsa sektor manufaktur terhadap perekonomian secara keseluruhan akan turun. Nah, kalau saya contohkan dengan angka tahun 2022, pangsanya masih 32%, tapi sekarang sekitar 18-19% saja. kata Hendri Sparini dalam Investor Market Today di IDTV, Selasa (10/9/2024)
Menurut Hendry, menurunnya kontribusi sektor manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) berdampak langsung pada masyarakat kelas menengah.
Pada dasarnya bagi masyarakat kelas bawah atau kelompok miskin, mereka mungkin bergantung pada bantuan keuangan langsung (BLT) yang disalurkan pemerintah. Berbeda dengan kelas menengah yang lebih bergantung pada pendapatan atau upah dan peluang usaha.
“Kalau mereka tidak punya peluang bisnis, bisnis kita akan terpuruk. Tentu saja liburan semakin besar. Hal ini membuat kelas menengah semakin berat. “Jadi bukan hanya karena biaya hidup yang naik, tapi karena peluang untuk meningkatkan pendapatan dari waktu ke waktu semakin berkurang,” jelas Hendry.
Read More : Traffic Data Selama Pilkada Diperkirakan Naik hingga 15 Persen
Hendry mengatakan, situasi ini sangat menyedihkan ketika kelas menengah di suatu negara lebih berat dibandingkan negara lain.
“Di negara lain, kelas menengah atau kelas pekerja mempunyai akses mudah terhadap transportasi umum dan harga terjangkau,” tutupnya.