Jakarta, Baritasato.com – Studi Ekonomi dan Hukum (SELIZ) Ekonom Nile Hood memperkirakan bahwa Program Nasional Pangan adalah langkah positif dalam mewujudkan keamanan pangan nasional. Namun, ia mencatat bahwa implementasi program masih belum lebih baik.
Read More : Pembongkaran Pagar Laut Bekasi Masuki Hari Kedua, Hampir 1 Km Terbongkar
“FoodState memiliki potensi untuk menghasilkan produksi makanan maksimum. Namun, pengantar tidak diharapkan saat ini, dan banyak yang tidak tinggi,” Selasa (2013.0244) Maulia Hotel di Maulia Hotel di Jakarta mengatakan.
Nellol telah mengamati bahwa keberadaan kepemilikan makanan tidak secara signifikan mempengaruhi produksi pangan nasional. Misalnya, Papua dan klaim utama jagung belum memenuhi harapan publik untuk mengurangi harga jagung. Selain itu, hasil penanaman padi dari kondisi makanan program belum jelas.
Menurut Nellol, program Properti Makanan saat ini berfokus pada pembersihan tanah baru, bukan peningkatan kapasitas produksi pangan. Dia menekankan perlunya tindakan pemerintah yang serius untuk mencapai tujuan properti makanan untuk memahami keamanan nasional.
“Pilihan situs penanaman strategis adalah langkah yang dapat dilakukan. Misalnya, memilih tempat yang membuktikan lebih banyak produksi beras dan sereal,” kata Nellol.
Dia juga merekomendasikan untuk meningkatkan jumlah periode panen sebagai cara untuk meningkatkan kapasitas produksi pangan.
Read More : Pukul 3 Siswa yang Bermain Air Saat Wudu, Guru di Gowa Dipecat
“Jika panen saat ini hanya tiga kali, kita dapat mengubahnya empat kali setahun,” katanya.
Nailol menekankan perlunya mengubah ide -ide makanan. Alih -alih mencetak tanah, fokuslah pada peningkatan produktivitas pertanian, yang harus didorong oleh pemerintah dan semua pihak terkait.
Dia menyimpulkan: “Produktivitas beras kami terus menurun. Foodstate harus meminta untuk meningkatkan produktivitas pertanian.”