Jakarta, Beritasatu.com – Paguyuban Harmoni Petani Indonesia (HKTI) menyajikan beberapa catatan sektor pertanian, antara lain kesejahteraan petani yang paling penting dan pentingnya petani dan petani mencapai keuntungan 30%.
Read More : Bakamla Tangkap Kapal Kayu Berisi 200 Bal Rokok Ilegal Vietnam di Perairan Riau
“Pendapatan petani kita hanya 112,46 pada tahun 2023. Ini harus ditingkatkan, oleh karena itu pupuk, benih, dan pakan ternak harus tersedia,” kata Ketua Umum HKTI yang juga Ketua Antar DPRD itu. -Badan Kerja Sama Parlemen (BKSAP) Fadli Zon dalam pidatonya, Rabu (24/7/2024).
Hal itu disampaikan Fadli pada pertemuan ASEAN Inter-Parliamentary Assembly (AIPA), Organisasi Pangan Dunia (Food Agricultural Organization/FAO), dan International Institute for Sustainable Development (IISD) di Ubud, Bali pada 24-25 Juli. . . 2024.
Konferensi ini bertujuan untuk memperkuat peran parlemen ASEAN dalam mendorong investasi berkelanjutan di sektor pangan, pertanian dan kehutanan. “Persoalan pertanian menjadi salah satu yang perlu dicermati karena kesejahteraan petani belum sepenuhnya terjamin,” kata Pak Fadli Zon.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pendapatan petani kecil saat ini sebesar Rp 5,23 juta per tahun. Sementara sebagian petani menerima Rp 22,9 juta per tahun. “Peternakan terus menurun, dan kontribusi kehutanan, peternakan, dan perikanan terhadap PDB (produk domestik bruto) akan turun sebesar 3,54% yoy (tahunan) pada kuartal I-2024,” ujarnya.
Read More : Viral Hidup di Gubuk Reyot, Ruslan Dapat Rumah dari Pemkab Lebak
Mereka mengatakan, para petani masih menghadapi permasalahan seperti bertambahnya jumlah penduduk seiring dengan ketersediaan pangan. Pada saat yang sama, gangguan iklim seperti cuaca dan hujan juga mempengaruhi kondisi pertanian. “Sekitar 280 juta masyarakat Indonesia membutuhkan makan tiga kali sehari,” ujarnya.
HKTI juga menyoroti pentingnya pembinaan petani agar generasi muda dapat terdorong menjadi petani. Data menunjukkan hanya 21% petani milenial di Indonesia. “Pertanian perlu dibangun dengan kuat untuk menarik generasi muda. Jika tidak, kita akan menghadapi kekurangan petani dalam beberapa dekade mendatang,” kata Fadli.