Paris, Beritasatu.com – Ketua Dewan Pertimbangan Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Anindya Novyan Bakrie menegaskan, kondisi dasar perekonomian Indonesia cukup kuat menghadapi dampak geografis dan geoekonomi internasional masyarakat, termasuk krisis Timur Tengah. .
Read More : Sesi I Perdagangan Senin 22 April 2024, IHSG Melemah 49 Poin
Kepastian tersebut disampaikan Anindya saat bertemu Sekretaris Jenderal International Chamber of Commerce (ICC), John Denton, ICC, Paris, Prancis, pada Rabu (17/04/2024).
“Kepada Sekjen ICC, saya menyampaikan harapan agar basis perekonomian Indonesia cukup kuat menghadapi tekanan dan risiko permasalahan akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, seperti tekanan nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS pada minggu ini. . kata Anindya dalam postingannya.
Sejumlah indikator menunjukkan kuatnya perekonomian, di antaranya Indonesia mampu mencatatkan pertumbuhan lebih dari 5%. “Saat perekonomian dunia tumbuh rata-rata 2%, kita dan beberapa negara, seperti India dan China, tumbuh sebesar 5%,” ujarnya.
Indikator lainnya adalah tingkat inflasi terkendali yang jauh lebih rendah dibandingkan negara maju lainnya yang tergabung dalam Organization for Economic Co-operation and Development (OECD). Inflasi di Indonesia berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Maret 2024 sebesar 3,05% setiap tahunnya.
Terkait pelemahan rupiah yang memasuki level psikologis Rp 16.000 per dolar AS, Anindya menilai hal tersebut bukan kali pertama terjadi. Sebelumnya, pada April 2020, nilai tukar Rupiah juga mengalami situasi serupa. Pelemahan nilai tukar tidak hanya dialami rupiah, namun juga mata uang regional lainnya. “Hal ini disebabkan oleh kondisi geopolitik yang tidak menentu akibat panasnya kawasan Timur Tengah. Belum lagi meningkatnya perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok,” jelasnya.
Anindya menegaskan, pemerintah dan Bank Indonesia (BI) sudah memiliki pengalaman dalam menghadapi situasi penuh tekanan seperti saat ini. “Yang paling penting adalah menjaga hubungan dagang untuk menjaga kebijakan yang tepat sasaran,” ujarnya.
Ia menambahkan, indeks rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) juga berada dalam zona aman, di bawah 40%. “Kita bandingkan dengan negara lain, rasio utang Covid-Covidnya sedikit yang masih tinggi, bahkan lebih dari 100%,” ujarnya.
Read More : Peran AgenBRILink Dekatkan Akses Perbankan bagi Masyarakat di Kabupaten Rejang Bengkulu
Menyerahkan kepemimpinan kepada John Denton, Anindya menegaskan, kondisi politik di Indonesia juga mendukung keadaan perekonomian yang masih baik. Proses penyerahan kepemimpinan nasional dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) kepada Prabowo Subianto terjadi sesuai jalur. “Hingga 82% masyarakat memberikan suaranya pada pemilu 2024, dan lebih dari separuhnya merupakan generasi muda atau pemilih pemula. Hal ini penting karena separuh populasi dunia juga akan menghadapi pemilu tahun ini,” jelasnya.
Anindya mengatakan Indonesia bukan hanya pemimpin ekonomi ASEAN, tapi juga satu-satunya negara ASEAN yang menjadi anggota G-20. Selain itu, Indonesia saat ini sedang dalam proses menjadi anggota OECD. “Dalam situasi global, Indonesia adalah pusat kekuatan global selatan,” tegasnya.
Menanggapi hal tersebut, John Denton menyambut baik posisi Indonesia dalam mendukung pertumbuhan ekonomi global. Selain itu, Indonesia diharapkan menjadi kekuatan yang seimbang dalam geografi internasional. Apalagi posisi Indonesia di Indo-Pasifik adalah negara dengan populasi Muslim terbesar, kata Sekjen ICC.
ICC adalah lembaga yang mempromosikan perdagangan dan investasi internasional. ICC memiliki jaringan di lebih dari 170 negara, mencakup lebih dari 45 juta usaha mulai dari usaha kecil dan menengah hingga perusahaan multinasional besar.