Batavia, Beritasatu.com – Debat pemilihan presiden (Pilpres) Amerika Serikat mempertemukan calon presiden (calon) Kamala Harris dari Partai Demokrat dan Donald Trump dari Partai Republik. Kamala mulai menyerang Trump, yang membuat marah mantan presiden Amerika Serikat tersebut. Bahkan, Harris menyinggung persoalan hukum Trump.
Read More : Nadia Vega: Pernikahan Aku dengan Sultan Yaar Jorik Dozy Sudah Selesai!
Diwawancarai Reuters pada Rabu (11/9/2024), Harris membahas larangan aborsi Trump dan kelayakannya untuk menjabat. Harris terus menantang Trump hingga akhirnya marah dan menuntut agar ia memberikan jawaban yang penuh kebohongan.
Saat itu, Harris menyinggung kampanye Trump dan bercanda bahwa orang sering kali pulang lebih awal karena lelah.
Trump, yang frustrasi dengan banyaknya orang yang mendukung Harris, mengklaim bahwa kampanyenya adalah yang terbesar dalam sejarah politik.
“Kami mengadakan pertemuan terbesar yang pernah terjadi dalam sejarah politik,” katanya.
Para kandidat berbeda pendapat mengenai isu-isu seperti imigrasi, kebijakan luar negeri dan layanan kesehatan, namun perdebatan tidak berfokus pada isu-isu spesifik.
Trump menghabiskan waktu berminggu-minggu melancarkan serangan pribadi terhadap Harris, termasuk penghinaan rasis dan seksis. Namun, selama debat, Trump semakin kesal dengan serangan yang terus menerus dilakukan Harris.
Read More : Video Lee Min Ho Kepergok Merokok Viral, Warganet Kecewa
Trump telah dikritik karena diduga menutupi pembayaran kepada bintang porno dan kejahatan lainnya serta gugatan perdata yang menyatakan dia bersalah atas pelecehan seksual.
Trump telah membantah melakukan kesalahan dan sekali lagi Harris dan orkestra Demokrat menuduh semuanya tanpa bukti.
Trump mengulangi klaim palsu bahwa penipuan adalah penyebab kekalahan pada pemilu AS 2020 yang disebut Harris.