Jakarta, Beritasatu.com – Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Indonesia (Apsyfi) Redma Gita Wiravasta mengatakan masyarakat Indonesia masih memiliki daya beli yang tinggi terhadap produk tekstil, namun rantai distribusinya didominasi produk China.
Read More : IHSG Kamis 1 Agustus 2024 Ditutup Bertambah 70 Poin
Hal ini terbukti setelah adanya pandemi Covid-19, industri tekstil dan produk tekstil (TPT) tumbuh sebesar 8% pada triwulan I tahun 2022 dan sebesar 13% pada triwulan III.
“Daya beli tekstil kita sebenarnya tidak ada masalah karena sebenarnya akan tumbuh pada tahun 2022 dan 2023 meskipun kondisi ekonomi sedang lesu,” kata Redma.
Dia mengatakan permasalahan tersebut muncul pada Mei 2024, ketika pemerintah melonggarkan impor setelah kendala perizinan impor menyebabkan backlog sebanyak 26.000 kontainer di beberapa pelabuhan.
Saat itu, pemerintah sudah sepakat untuk meninjau kembali Peraturan Menteri Nomor 36 Peraturan Perdagangan Tahun 2023 tentang Pengaturan Impor, namun sudah berjalan 3 bulan sejak diberlakukan.
“Masalahnya terkait barang impor. Masyarakat lebih banyak berbelanja tekstil dan pakaian, baik online maupun offline, dibandingkan barang impor. “Jadi penurunan industri TPT tidak ada hubungannya dengan daya beli,” ujarnya.
Read More : UMKM Merasa Diuntungkan dengan Kebijakan Libur Panjang
Hal ini semakin diperkuat dengan rantai distribusi yang masih didominasi oleh platform penjualan Tiongkok. Menurut Redma, pemerintah perlu memperkuat distribusi produk TPT impor secara online dan offline.
“Kami tidak punya platform penjualan di dalam negeri, jadi bergantung pada (platform) luar negeri. Sebenarnya akan lebih efisien jika ada platform yang benar-benar mendorong produk dalam negeri. Sekarang rantai distribusinya milik Tiongkok, sehingga algoritme memberikan prioritas pada produk Tiongkok. “Jadi menurut saya ini salah satu pekerjaan rumah yang perlu dilakukan pemerintah,” kata Redma.