Jakarta, Beritasatu.com – Konflik antara Iran dan Israel tidak hanya menyebabkan ketegangan di Timur Tengah, tetapi juga berdampak pada kondisi sosial -ekonomi di Indonesia, termasuk ancaman untuk mengakhiri hubungan massa (PHK) massa.
Read More : Tingkat Pengangguran di Jepang Turun
Komite Rumah IX telah mengingatkan pemerintah untuk segera memprediksi potensi untuk mengabaikan pekerjaan yang dapat muncul sebagai kelanjutan dari konflik.
Anggota Komite Rumah IX dari faksi PKS, menjelaskan Nety Prasetiyani Aher, ketegangan di Timur Tengah memiliki kemampuan untuk mendorong kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) secara global.
Peningkatan ini dapat berdampak negatif pada berbagai bidang di Indonesia, terutama industri ekspor dan pekerja tidak resmi, yang rentan terhadap liburan massal.
“Oleh karena itu, sangat penting bahwa semua pihak, baik legislatif maupun eksekutif, terus berkoordinasi untuk membuat perlindungan pekerja lebih kuat dan lebih komprehensif,” kata Nety dalam pernyataannya, keempat (25 Juni 2025).
Nety sangat menghargai keberadaan program kehilangan pekerjaan (JKP) yang membantu pekerja dipengaruhi oleh pemecatan.
Namun, menurutnya, program harus terus berkembang menjadi lebih banyak ditargetkan dan dapat mencapai berbagai bidang pekerjaan.
“Implementasi JKP di masa depan harus ditargetkan dan mencapai banyak pekerja dari berbagai bidang, termasuk pekerja tidak resmi yang sering ditinggalkan,” kata Nety.
Selain memberikan bantuan uang tunai, JKP juga harus menyediakan akses ke pelatihan kerja dan mengatur pekerjaan sesuai dengan kebutuhan dunia kerja saat ini.
Ini sangat penting bagi pekerja untuk dipengaruhi oleh pekerjaan yang segera disesuaikan dan kembali ke pendapatan.
Read More : Setelah Taylor Swift, Giliran Oprah Winfrey Disemprot Donald Trump
“Kerjasama yang erat antara Kementerian Tenaga Kerja dan Kementerian Tenaga Kerja di daerah -daerah itu penting untuk memantau dan menangani kasus -kasus pemecatan dengan cepat dan akurat,” tambahnya. Melindungi pekerja yang berwujud dan informal
Nety juga menekankan perlunya memberikan perhatian khusus kepada kelompok -kelompok buruh yang rentan, seperti pekerja harian independen dan pekerja tidak resmi, orang -orang yang tidak terapi dalam sistem perlindungan tenaga kerja resmi.
“Harus ada upaya umum untuk mencapai orang yang tidak terlindungi sehingga mereka dapat menerima perlindungan yang tepat,” katanya.
Menurut Netty, perlindungan tenaga kerja tidak hanya masalah hak -hak individu, tetapi juga bagian penting dari melindungi keluarga Indonesia pada umumnya.
Nety juga menekankan pentingnya memperkuat program JKP, serta kerja sama interdisipliner untuk melindungi semua pekerja, terutama pekerja informal, dapat bekerja secara efektif dan dalam target.
Karena dampak konflik Iran Israel kemungkinan akan menyebabkan tantangan besar bagi pekerja Indonesia, terutama ancaman pemecahan besar karena meningkatnya harga bahan bakar dan ketidakstabilan ekonomi global.