JAKARTA, Peridasat.com – Henry Sabarini, ekonom Center for Economic Reforms (CORE) Indonesia, memperkirakan target pertumbuhan ekonomi sebesar 8% bisa tercapai jika Indonesia mengubah pendekatan perekonomian dari industrialisasi ke deindustrialisasi.
Read More : Tren Harga Komoditas Tambang Diproyeksi Positif karena Konflik Timur Tengah
Henry Sabarini menjelaskan, ada tiga langkah penting yang harus dilakukan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan tinggi agar Indonesia bisa keluar dari jebakan pendapatan menengah.
Yang pertama adalah penggunaan ekonomi panchasila, yaitu perekonomian yang berorientasi pada kerakyatan. Pendekatan ini memerlukan demokrasi ekonomi. Pemerintah harus melibatkan seluruh lapisan masyarakat dan memberdayakan semua pihak untuk berpartisipasi dalam pembangunan ekonomi, termasuk pembangunan industri.
Kedua, revolusi industri. Menurut Henry, Indonesia harus belajar dari negara-negara maju yang telah mencapai pertumbuhan ekonomi pesat melalui industrialisasi. Saat ini Indonesia sedang mengalami industrialisasi prematur yang menyulitkan pembangunan ekonomi. Oleh karena itu, prioritas harus diberikan pada pengembangan industri untuk mendorong pertumbuhan. Pemerintah harus mengembangkan sektor inti dan memastikan kelancaran fungsi sektor-sektor tersebut di berbagai daerah.
โSektor manufaktur bisa dijadikan jangkar untuk menciptakan back-and-forward link antara BUMN dan swasta,โ kata Henry, Jumat (18/10/2024).
Ketiga, mengembangkan strategi industri yang inovatif dan canggih untuk mengatasi dinamika global.
Read More : Industri Bir Terpukul, Laba Bersih Delta Djakarta (DLTA) Anjlok Sepanjang 2023
Henry juga mengatakan, kebijakan hilirisasi pertambangan memerlukan validasi berupa perhitungan verifikasi kandungan nikel, bauksit, dan lainnya.
โDengan kebijakan menjamin kandungan hasil pertambangan, kita dapat mencegah potensi kerugian negara akibat sengketa,โ ujarnya.