JAKARTA, Beritasatu.com – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto mengungkapkan potensi risiko banjir lahar dingin di Gunung Ibu di Halmahera Barat, Maluku Utara. Kemungkinan ini muncul setelah gunung tersebut mengalami letusan baru-baru ini.
Read More : Geni Faruk Dianggap Sombong karena Sebut Thariq Halilintar Sudah Haji sejak Usia 2 Bulan
Menurut dia, potensi bahaya tersebut teridentifikasi berdasarkan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang dilaporkan ke BNPB.
Dalam laporan tersebut, tim ahli BMKG mengidentifikasi fenomena cuaca berupa Rossby Equatorial Activity yang menyebabkan wilayah Maluku Utara kemungkinan akan diguyur hujan sedang hingga lebat dalam beberapa hari ke depan.
“Secara teori, hujan ini melonggarkan material vulkanik seperti pasir dan batuan yang tertinggal di puncak atau lereng Gunung Ibu, sehingga berpotensi mengalir ke kawasan lembah,” kata Suharyanto saat rapat koordinasi. Dikutip dari Gunung Ibu-Antara, Jumat (31/5/2024) Wabah di Kantor Bupati Halmahera Barat.
Semua pihak harus mewaspadai situasi ini. Berdasarkan laporan awal tim Badan Geologi Kementerian ESDM, terdapat 13 titik kemungkinan aliran lahar mengarah ke beberapa pemukiman warga di sekitar Gunung Ibu.
“Tim ahli siap diturunkan untuk memperdalam pengkajian risiko. Jika terjadi penumpukan material akibat erupsi, segera dibersihkan karena sangat berbahaya,” tegasnya.
Suharyanto juga menekankan pentingnya perhatian serius dari warga yang tinggal di sekitar Gunung Ibu. Mereka harus mengikuti arahan pemerintah dalam menangani potensi bahaya ini.
Read More : Kasus Covid-19 di Singapura Naik, Pemerintah Waspada Gelombang Baru
Ia tak ingin kejadian aliran lahar dingin Gunung Marapi di Sumatera Barat, Halmahera Barat, 11 Mei 2024 terulang kembali.
Aliran lahar dingin Gunung Marapi yang melanda empat kabupaten/kota di Sumbar menimbulkan kerusakan besar dan korban jiwa. BNPB mencatat sebanyak 62 orang meninggal dunia dan 10 orang hilang.
“Kita tidak boleh membesar-besarkan, namun kewaspadaan tetap harus ada. Hasil investigasi dan analisa di lapangan nantinya akan dijadikan sebagai langkah pencegahan dan kesiapsiagaan karena keselamatan masyarakat adalah prioritas utama,” ujarnya.